Negara Kaya Bisa Runtuh, JK Serukan Perdamaian

233
Wapres Jusuf Kalla menghadiri penutupan AYD ke-7 di Lapangan AAU Yogyakarta, Minggu (06/08/2017).(dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyerukan perdamaian gernpara pemuda di tingkat Asia. Seruan itu penting karena saat ini generasi muda menghadapi tantangan yang cukup serius terkait konflik dan potensi konflik di Asia, khususnya di Asia Timur, Asia Barat dan Asia Selatan.

“Negara sekaya apapun, semaju apapun, kalau dilanda konflik akan runtuh,” ujar JK dalam penutupan Asian Youth Day (AYD) ke-7 di Lapangan Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Minggu (06/08/2017). JK hadir bersama Menpora Imam Nahrawi dan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Menurut Wapres, saat ini sejumlah negara di Timur Tengah, Amerika Selatan dan Afrika mengalami kemunduran yang diakibatkan konflik. Persoalan itu sangat disayangkan mengingat kekayaan alam di negara-negara tersebut yang sangat melimpah.

Karenanya forum generasi muda seperti dalam AYD dinilai sangat penting. Mereka berperan besar di masa mendatang karena mempertemukan generasi muda dari berbagai bangsa di Asia.

“Ribuan anak muda dari berbagai negara di Asia yang kini telah menjadi kawasan terpadat dan penopang perekonomian duni. Forum ini bukan hanya pertemuan antarumat Katholik, tapi juga antargama, seperti dengan Islam dan Kristen. Ini bisa jadi modal sinergi di masa mendatang,” tandasnya.

JK berharap pertemuan pemuda Katolik se-Asia ke-7 tersebut membawa pesan positif. Anak muda dari berbagai negara di Asia bisa menyampaikan kesan yang baik tentang Indonesia.

“Bagi yang akan meninggalkan negeri ini, mudah-mudahan dapat memberikan kesan yang baik,” ungkapnya.

Sementara Ketua Panitia AYD ke-7 sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Ignatius Suharyo, menjelaskan kegiatan AYD ke-7 yang digelar 2-6 Agustus 2017 tersebut diharapkan dapat menginspirasi para peserta, untuk meneladani Komodor Muda Udara (Kolonel) Agustinus Adisutjipto.

AYD ke-7 diikuti 942 pemuda Katolik dari 22 negara di Asia. Yogyakarta dipilih karena dianggap sebagai contoh keberagaman di Indonesia dengan tingkat toleransi yang tinggi.

“Semoga kami bisa belajar seperti Adisutjipto, yang meninggal demi berjuang untuk negara,” tandasnya.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengungkapkan, pertemuan pemuda Katolik se-Asia itu diharapkan dapat menumbuhkan toleransi antar umat beragama. Dengan demikian dapat tercipta keharmonisan di masyarakat di dunia.

“Dengan semakin menyadari keberagaman, diharapkan ada harmoni dalan perbedaan,” imbuhnya.(yve)