Nekat, Warga Jual Raskin. Keuntungan Rp 4.500 perkilo

Seorang warga Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Klaten, saat mengambil raskin di Kantor Kepala Desa setempat beberapa hari lalu. (masal gurusinga/koranbernas.id)

262

KORAN BERNAS, ID–Belasan karung raskin (rastra) di Desa Jeblok Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten diperjualbelikan warga penerima kepada pedagang di desa itu. Warga terpaksa menjual beras subsidi pemerintah itu dengan beberapa alasan, diantaranya kurang layak konsumsi dan ingin menukarnya dengan beras yang lebih bagus.

“Tidak pernah kami konsumsi mas. Pokoknya begitu raskin kami terima ya kami jual dan tukar lagi dengan beras yang lebih bagus,” kata Wahyudi, warga Jeblok.

Wahyudi menceritakan raskin yang dia terima setiap bulan diperoleh dengan cara membeli seharga Rp 1.600/kilogram. Namun setelah mengetahui kualitas beras yang diterima kurang layak, maka beras itupun dijual lagi atau digunakan untuk sumbangan saudara atau tetangga yang punya hajat.

Oleh pembeli kata dia, satu karung raskin isi 15 kilogram dihargai dengan Rp 95.000. Namun ada juga yang kurang dari itu tergantung kualitas berasnya.

Wahyu menyadari perbuatannya ini salah. Namun dia tidak memiliki pilihan lain, karena tetangganya pun melakukan hal serupa.

Sugiyono, warga Desa Jeblok lainnya juga melakukan hal yang sama. Hanya saja Sugiyono mengaku terus terang jika hasil penjualan raskin yang dia terima itu digunakan untuk membeli kebutuhan pokok lainnya seperti sayur-sayuran atau lauk pauk.

Pernyataan senada diungkapkan pengepul raskin dari warga penerima. Pengepul yang keberatan disebutkan identitasnya itu menjelaskan perbuatannya membeli raskin dari warga telah dilakukan lama dan untuk membantu warga juga.

“Kami tidak bisa menolak kalau ada warga yang menjual raskin ke kami. Kalau kondisi berasnya masih lumayan kami beli Rp 95.000 per karung isi 15 kilogram. Tetapi kalau berasnya sudah berwarna agak kuning kami beli dengan harga kurang dari itu,” ujarnya.

Kepala Gudang Bulog Meger Ceper Totok Praptomo mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap aksi warga yang menjual kembali raskin yang telah diterima.

“Tugas pemerintah hanya menyalurkan raskin hingga titik distribusi yakni kelurahan atau desa. Selanjutnya setelah raskin itu diterima warga, kami tidak punya wewenang apa-apa,”ujarnya.

Aksi jual kembali raskin oleh warga penerima tidak hanya terjadi di Desa Jeblok Karanganom. Beberapa tahun lalu aksi serupa juga terjadi di Desa Delanggu Kecamatan Delanggu. Hanya saja kejadian di Desa Delanggu lebih blak blakan karena transaksi jual beli raskin antara warga penerima dengan pembeli justru terjadi di depan Kantor Kepala Desa. (masal gurusinga/sm)