“Nggumbregi” Sebagai Ucapan Syukur Desa

269
Warga Pedukuhan Karanggede, Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo merayakan panen dengan upacara "Nggumbregi", Jumat (05/01/2018). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID— Umumnya warga masyarakat mengungkapkan rasa sukur terhadap panenan hasil usaha mereka ujudkan dalam bentuk merti desa. Namun bagi warga Pedukuhan Karanggede, Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, ungkapan sukur dirayakan dengan cara unik yang mereka sebut “nggumbregi”, Jumat (05/01/2018).

Upacara itu diawali dengan mengarak sebuah gunungan ketupat dan berbagai ubarampe serta sesajen lainnya. Arak arakan diawali oleh barisan bregada prajurit dengan pakaian khas prajurit Mataram.

Di belakang gunungan kupat beberapa warga juga menuntun ternak mereka mengikuti arak arakan. Tak lupa untuk memeriahkan sebuah sukuran kelompok kesenian kuda lumping menyertainya

Berangkat dari lapangan dusun hingga masjid setempat dengan jarak sekitar satu kilometer, arak-arakan menjadi tontonan warga. Mereka sudah menanti jalannya arak-arakan sejak pagi karena warga akan berebut ketupat yang dibawa tersebut dengan harapan bisa ikut mendapatkan berkah dengan merebut gunungan.

Setelah sampai finish dilakukan upacara adat dan doa. Pada puncaknya gunungan kupat diperebutkan. Kemudian gunungan dimakan bersama-sama.

Tidak hanya warga saja yang lahap menyantap ketupat dari gunungan, namun hewan ternak milik para warga juga tak mau ketinggalan diberi makan ketupat dari gunungan. Memberi makan hewan ternak dengan ketupat juga merupakan salah satu tradisi dalam upacara adat ini.

Warga percaya memberikan makan ketupat kepada hewan ternak bisa membawa berkah berupa kesehatan dan keselamatan kepada hewan ternak. Dengan demikian bisa diajak kembali hingga setahun kedepan untuk ikut panen

Ngalimun (58), warga setempat mengaku hanya membawa satu ekor kambing dari tujuh kambing miliknya.

“Kalau semua kambing dibawa repot. Yang jelas sudah ada satu ekor yang diberi makan ketupat. Kepercayaan di sini memang bisa membawa berkah kalau hewan ternak diberi makan ketupat dari upacara ini,” katanya sambil menyuapkan ketupat kemulut kambing.

Kepala Desa Jatimulyo, Anom Sucondro menyebut acara tersebut rutin dihelat setiap tahun oleh warga Karanggede. Setidaknya terdapat 514 ketupat yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi gunungan yang kemudian diperebutkan oleh warga setelah kenduri dan doa bersama dilakukan.

“Ini sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan yang telah memberikan kelancaran hingga masa panen selesai. Ketupat dan pelas tawon menjadi makanan khas yang selalu ada dalam acara ini. Menggunakan ketupat untuk mengungkapkan syukur merupakan ajaran Sunan Kalijaga,” ungkap Anom.

Dia mengatakan, upacara tersebut tidak usah diperdebatkan. Ini kepercayaan sudah turun temurun memberi makan ketupat kepada kerbau, sapi, kambing hingga ayam.

“Istilahnya kita mengasihi hewan ternak agar bisa diajak bekerja untuk panen tahun depan dan mengadakan syukuran seperti ini lagi,” sambung Anom.

Anom berharap, upacara adat ini bisa terus dilestarikan oleh warga. Sebab pemerintah Desa Jatimulyo berencama menjadikan upacara ini sebagai salah satu destinasi wisata berbasis kebudayaan. Seperti diketahui, Desa Jatimulyo memang telah berselempang gelar desa budaya dan desa wisata.(yve)