Nginap di Hotel, Makan di Angkringan

1013
Angkringan Waroeng Blendoeng di Semarang. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Awalnya, warung angkringan muncul dengan tampilan sangat sederhana serta identik dengan makanan murah meriah. Nasi kucing adalah salah satu menu paling populer. Nama itu muncul karena wujudnya seperti makanan untuk kucing. Dibungkus daun pisang dalam porsi kecil, dengan lauk teri atau oseng-oseng tempe.

Pada mulanya, angkringan merupakan tempat nongkrong sekaligus tempat makan para tukang becak dan kaum marginal, kemudian berkembang ke komunitas lain. Para seniman yang tertarik pada suasana santai itu pun kemudian bergabung di berbagai warung angkringan.

Semakin lama lauknya semakin bervariasi. Nasi yang awalnya dijual Rp 250 per bungkus, sesuai perkembangan harganya berubah kini sudah naik menjadi Rp 1.500 per bungkus. Warung angkringan pun bermunculan di semua bagian wilayah.

Orang yang mula-mula enggan makan di sana akhirnya jatuh cinta Mereka tumbuh dengan komunitas-komunitasnya. Konsep angkringan ini ternyata diadopsi oleh orang-orang bermodal yang cukup kreatif. Di Solo, rumah-rumah besar milik mantan juragan batik, disulap menjadi tempat wedangan.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, KBRI Windhoek Gelar "Outreach" dan Bakti Sosial

Omah Lawas misalnya, tak pernah surut dari pembeli. Tempatnya yang bersih dan kualitas makanan yang lumayan jauh lebih tinggi dibanding angkringan pinggir jalanan, menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan menengah yang ingin menikmati suasana santai.

Di Solo, banyak tempat wedangan berkelas dan selalu ramai oleh pembeli. Mobil-mohil berderet, datang dan pergi. Di Semarang, juga ada tempat makan angkringan. Salah satunya berlokasi tidak jauh dari Lawang Sewu, masuk kawasan elit. Kapasitas tempat duduknya bisa lebih dari 100, dengan kursi kayu atau bangku panjang.

Konsepnya memang angkringan. Ada sekitar 20 jenis nasi bungkus. Lauknya antara lain peda, teri, sambal teri, mi, kerang, pindang lombok ijo, oseng dan banyak lagi. Nasi itu dibungkus kecil-kecil.
Pembeli harus antre panjang sambil membawa piring lidi beralas kertas minyak. Berikut aneka lauk seperti sate telur, ayam goreng, sosis, tahu petis, cakar sambal, sate kerang, sate usus, gorengan dan banyak pilihan lagi.

Baca Juga :  Terima Gratifikasi, Sekda Kebumen Dituntut 5 Tahun Penjara

Sementara minuman jauh lebih bergengsi berupa aneka kopi yang lagi ngetop. Di tengah hiruk pikuk pembeli, anak-anak muda bermain musik dengan saweran. Jadilah Waroeng Blendoeng tempat yang mengasyikkan. Apalagi sembari memandang rembulan menggantung di langit sana, eksotisme pun terbangun.
Kawasan itu memang sudah digarap dan disiapkan sedemikian rupa.

Bus dengan mudah parkir, apalagi mobil-mobil pribadi serta sepeda motor. Di sana tak hanya Blendoeng. Ada beberapa lagi, bahkan ada yang menghidangkan mangut lele serta makan malam berat lainnya.

“Harganya ternyata sangat murah. Saya yang mengambil makan komplet dan teh panas, cuma Rp 18.000,” kata Janti yang duduk satu meja dengan koranbernas.id, Kamis (24/08/2017) malam. Dia sengaja memperhatikan mesin hitung harga.

Saat ini ada kecenderungan orang mencari tempat makan yang unik dan santai. Ternyata banyak pula orang yang menginap di hotel-hotel berbintang bertarif sangat mahal, justru memilih makan di angkringan. (yve)