Gunakan Joki, 9 Orang Ini Mimpi Jadi Dokter

707
Pihak rektorat UAD memperlihatkan barang bukti perjokian yang dilakukan sembilan calon mahasiswa di UAD, Senin (30/07/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Sebanyak sembilan calon mahasiswa tertangkap menggunakan jasa joki dalam seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Ahmad Dahlan (UAD) gelombang III di kampus setempat, Minggu (29/07/2018). Diiming-imingi joki bisa masuk Fakultas Kedokteran, mereka nekat menggunakan alat perjokian dengan membayar Rp 150 juta per orang.

“Kami menemukan sejumlah alat dan badan dan tas yang dibawa sembilan peserta ini yang kesemuanya perempuan. Mereka menutupi alat-alat tersebut di baju dan jilbab yang dikenakan,” papar Imam Azhari SSi MSc, Kepala Bidang Administrasi dan Evaluasi Akademik UAD kepada wartawan di kampus setempat, Senin (30/07/2018).

Menurut panitia PMB UAD tersebut, sebenarnya ada 15 calon mahasiswa yang dicurigai menggunakan joki dalam ujian tulis tersebut. Namun dari pemeriksaan panitia, sembilan orang yang berasal dari sejumlah daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi yang terbukti menggunakan alat-alat perjokian yang dipasang pelaku yang memantau mereka dari luar kampus.

Panitia menemukan sejumlah barang bukti untuk menyamar seperti kerudung dan rambut palsu, 2 telepon seluler yang satu berfungsi sebagai alat komunikasi dan satu lagi untuk gambar. Selain itu earpiece (alat mendengarkan yang ditanam di telinga-red), dua aki, pemancar ke earpiece, jaket dan tas. Barang bukti tersebut ditemukan di tong sampah lantai 1 sayap timur Kampus 4 UAD.

Baca Juga :  Polisi Bekuk Tiga Pelaku Penyalahgunaan Psikotropika

Dari sembilan peserta ujian tulis, Dua orang diantaranya menggunakan alat-alat lengkap seperti telepon seluler, kabel, wi-fi transmitter, bluetooth yang ditutupi jaket serta membawa tas yang berisi aki dan pemancar yang digunakan mendistribusikan jawaban soal pada tujuh peserta lainnya yang mengenakan earpiece.

Kunci jawaban diterima peserta dalam waktu setengah jam saat ujian. Soal itu didapat sindikat dari salah satu peserta yang menggunakan jaket khusus yang telah ditanam telepon seluler sebagai pengambil gambar dari soal ujian.

“Gerak-gerik peserta mencurigakan saat ujian sehingga petugas keamanan kami memeriksa mereka dan ditemukan alat-alat bukti tersebut,” jelasnya.

Barang bukti perjokian yang digunaka calon mahasiswa UAD. (yvesta putu sastrsoendjojo/koranbernas.id)

Ditambahkan Kepala Biro Akademik dan Admisi UAD, Dr Wahyu Widyaningsih MSi Apt, kasus serupa pernah terjadi pada PMB gelombang I pada 29 April 2018 lalu. Dua joki tertangkap karena menjadi calon mahasiswa di FK UAD dan memberikan jawaban ujian menggunakan jam tangan android.

Dua joki tersebut satu diantaranya merupakan mahasiswa S1 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jakarta dan lainnya merupakan mahasiswa Pascasarjana salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di DIY.

“Kami sudah melaporkan ke pihak kepolisian namun belum tindak lanjut karena merupakan perdata dan tidak ada payung hukum yang dapat menjerat tindakan tersebut,” tandasnya.

Baca Juga :  Cara Hindari Radikalisme, Ini Pesan Densus 26

Wahyu menjelaskan, dalam PMB di FK tahun ini, UAD menerima 50 mahasiswa baru. Sebanyak 626 peserta mengikuti ujian tulis dalam tiga gelombang. Untuk bisa diterima di FK pada gelombang ketiga, calon mahasiswa dikenakan biaya masuk Rp 200 juta ditambah Rp 75 juta untuk dana amal jariyah.

“Banyak calon mahasiswa yang tergiur masuk fakultas kedokteran dengan cara apapun,” ujarnya.

Sementara Rektor UAD, Dr Kasiyarno SH MHum menyangkan perbuatan calon mahasiswa untuk bisa masuk ke UAD. Padahal dokter merupakan profesi yang mulia yang mengedepankan kredibilitas.

“Namun harus ternoda oleh calon mahasiswa yang menghalalkan segala cara demi dapat mencapai cita-citanya itu. Ini sudah merupakan masalah moral yang serius,” ungkapnya.

Kasiyarno akan melaporkan persoalan tersebut kepada PP Muhammadiyah. Dia juga berharap pemegang kebijakan bisa membuat payung hukum atas persoalan perjokian tersebut.

“Kasus perjokian ini muncul kadangkala bukan karena kemauan anak tapi desakan orangtua yang memaksakan diri pada pendidikan anaknya. Hal ini perlu diperhatikan karena kasihan anak-anak yang akhirnya kena blacklist karena ikut jaringan perjokian,” imbuhnya.(yve)