“Ngundhuh Wohing Pakarti” Diserbu Penonton

452
Ketoprak “Ngunduh Woing Pakarti” di Babadan, Bantul, Sabtu (26/8/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ketoprak dengan lakon “Ngundhuh Wohing Pakarti” yang dibawakan oleh paguyuban ketoprak Desa Bantul, “Cipto Budoyo” dipadati penonton saat pentas di Dusun Jonggrangan, Dusun Babadan, Sabtu (26/8/2017) malam.

Penonton termasuk Lurah Desa HM Zubaidi dan istri, Babinkamtibmas Desa Bantul Bripka Winardi, Babinsa Bantul Serta Tamziz dan tamu undangan lain terlihat menikmati alur cerita yang dibawakan 36 seniman muda-mudi Desa Bantul itu. Termasuk juga dua bintang tamu yakni Rio Srundeng dan Ari Purnawan. Serta dua pemain cilik Endru (8 tahun) serta Sekar Kajeng Jatiningrum (7 tahun) yang malam itu tampil lincah, percaya diri dan mampu mengimbangi permainan para senior yang usianya jauh diatas dirinya.

Ketua paguyuban ketoprak “Cipto Budoyo” Desa Bantul, Kuswandi mengatakan kalau paguyuban tersebut berdiri sejak 17 Maret 2015. Mereka sudah pentas ke-4 kalinya dan selalu mendapat respon positif dari penonton.

“Kami berlatih untuk pementasan malam hari ini selama dua bulan dengan durasi seminggu sekali setiap malam Kamis,”kata Kuswandi yang juga seniman dan pelaku budaya tersebut.

Baca Juga :  Imogiri Simpan Potensi Sejarah yang Terpendam

Dirinya berharap dengan pembentukan paguyuban kethoprak di Desa Bantul yang melibatkan anak-anak dan generasi muda, maka seni budaya tersebut akan lestari.

“Karena saya ingin seni budaya dan seni tradisi yang ada di Desa Bantul bisa tumbuh, berkembang dan lestari. Kami memiliki harapan desa ini bisa menjadi desa budaya atau rintisan budaya dan akan kita ajukan ke Pemkab Bantul,”kata Kuswandi yang juga Kasi Kesejahteraan Desa Bantul tersebut.

Selama ini, lanjut Kuswandi hal yang menjadi kendala dalam pengembangan ketoprak adalah soal biaya. Karena untuk sekali pentas dengan panggung dan tata cahaya yang standar harus mengeluarkan biaya Rp 20 juta lebih. Biaya itu termasuk untuk sewa kostum, tata rias, wirogo dan sinden yang mengambil dari tempat lain karena Desa Bantul belum memiliki gamelan dan biaya untuk keperluan lainnya.

Baca Juga :  Hadapi Ujian, Siswa Belajar Malam Hari

“Untuk itu besar harapan saya ketika ini nanti berkembang jadi desa rintisan budaya akan ada dukungan dari pemerintah,” katanya.

Saat ini untuk mendukung pengembangan dan pementasan ketoprak, pihaknya mendapat dukungan dari APBDes dan juga bantuan dana aspirasi anggota dewan yang malam itu nampak hadir yakni Jumakir dari FPP DPRD Bantul.

“Selain ketoprak seni lain juga akan kita kembangkan seperti jatilan, reog, wayang, teater, sholawatan dan seni lainnya,”katanya.

Sementara Lurah HM Zubaidi berharap pementasan tersebut bisa diambil nilai pembelajaran bagi kehidupan.

“Kita jangan pernah menyakiti orang lain atau berbuat tidak baik pada orang lain. Karena kita akan menuai buah dari perbuatan kita sendir seperti judul ketoprak “Ngunduh Woing Pakarti,” kata Zubaidi.

Dirinya berharap ketoprak bisa terus berkembang dan maju di Desa Bantul. Pemerintah Desa Bantul sendiri mendukung pengembangan seni dan budaya yang ada di desa. (yve)