Nico Shendy Yuliono, Kecintaannya Pada Olahraga Tradisional Berbuah Manis

174
Nico Shendy

KORANBERNAS.ID–Tak kenal, maka tak sayang. Pepatah ini agaknya pas untuk menggambarkan kecintaan Nico Shendy Yulion, mahasiswa Teknik Perminyakan Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta angkatan 2015, terhadap berbagai jenis permainan tradisional. Kecil hingga SMP, Nico bersama teman-temannya sebatas menikmati berbagai permainan tradisional sebagai aktivitas kanak-kanak. Tapi masuk bangku SMA, dirinya mulai serius dan menekuni permainan ini sebagai bagian dari olahraga rekreasi untuk prestasi.

Ditemui di Kampus UP45, lajang kelahiran Bandung ini mengisahkan rutinitasnya menggeluti berbagai olahraga permainan tradisional. Kebetulan, sekolahnya-SMA 1 Cikalong Wetan, berinisiatif untuk melestarikan berbagai seni olahraga tradisional ini, dengan membentuk komunitas. Satu-satunya sekolah yang mau dan perhatian dengan keberadaan seni olahraga tradisional.

Awalnya hanya segelintir siswa yang ikut. Bahkan Nico pun sempat mendapat cibiran dari rekan-rekannya. Tapi seiring dengan waktu dan semakin lapangnya “tempat” bagi berbagai jenis seni olahraga tradisional, pandangan sebelah mata ini mulai berbalik arah.

“Sekarang lumayan banyak yang atensi. Anggota Komunitas Olahraga Tradisional Cikalong (KOATCI) juga makin bertambah banyak. Latihannya juga bersemangat,” kata Nico, yang belum lama ini menorehkan prestasi dalam Pekan Olahraga Rekreasi Nasional Oktober lalu di Banjarmasin. Dalam event ini, Nico masuk dalam 8 besar Benjang-gulat tradisional- atas nama UP45. Namun sebagai official dari Jawa Barat, Nico bersama tim juga meraih Juara 2 untuk Hadangan Putra, Juara 3 untuk Egrang Putra, Juara 4 untuk Hadangan Putri, Juara 4 Egrang Putri, dan 8 besar Street Soccer.

Baca Juga :  Aturan Zonasi Merepotkan, Disdikpora DIY Evaluasi PPDB

Kepada koranbernas.id, pemuda berkacamata yang ramah ini mengungkapkan, meski disebut rekreasi, sejatinya olahraga /permainan tradisional ini juga menuntut keterampilan dan fisik yang prima, layaknya atlet-atlet olahraga pada umumnya. Tak heran, program latihan yang diterapkan juga berfokus pada keterampilan dan olah fisik, disamping kecerdikan. Sedangkan untuk olahraga tradisional yang dimainkan beregu, juga ada penekanan pada unsur kerja sama dan kekompakan.

“Jadi banyak sisi positif dari berbagai macam olahraga tradisional. Hanya selama ini barangkali belum disadari oleh sebagian masyarakat kita,” kata Nico.

Bersama Kontingen Jawa Barat

Selain itu, permainan/olahraga tradisional ini adalah bagian dari kekayaan budaya bangsa. Sehingga amatlah sayang apabila sampai hilang ditelan zaman, dan tersisih oleh berbagai jenis permainan modern yang bukan asli Indonesia. Sebab menurut Nico, perkembangan zaman sekarang, kekayaan tradisi atau budaya justru menjadi asset yang sangat penting, dan terbukti mampu menunjang sektor kepariwisataan yang menjadi salah satu andalan penghasil devisa.

Baca Juga :  UGM Bawa Pulang 34 Medali Pimnas XXX

“Saya kira hal ini penting untuk dipahami oleh anak-anak muda kita. Jangan sampai kekayaan tradisi ini di kemudian hari malah diklaim dan diaku oleh negara lain. Kalau sampai seperti itu, kita nanti hanya bisa menyesali kan,” kata Nico berargumentasi.

Terlanjur cinta dengan olahraga tradisional, Nico mengaku masih kesulitan untuk mendapatkan “tempat” berlatih di DIY. Dia mengaku, sejauh pengetahuannya, Jogja belum menyediakan tempat yang semestinya untuk berbagai jenis olahraga tradisional ini.

“Akhirnya saya hanya latihan sendiri. Padahal latihan sendiri tentu tidak bisa optimal. Saya baru bisa berlatih sesungguhnya kalau pas pulang ke Bandung,” katanya.

Soal prestasi, sebelum event di Banjarmasin, Nico juga beberapa kali mampu unjuk kebolehan dalam event di sejumlah kota. Jenis atau cabang olahraga tradisionalnyapun bukan hanya Benjang, tapi juga beberapa yang lain.

“Saya pribadi masih menyimpan obsesi, pengin membawa prestasi dari olahraga tradisional ini dalam ajang internasional. Sekaligus ingin mengenalkan berbagai olahraga tradisional ini ke manca,” kata Nico yang juga memiliki basik olahraga pencak silat ini. (sur)