Nikmatnya Malioboro Tanpa PKL

244
Suasana langka di mana Kawasan Malioboro lengang dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas warga dan pelaku wisata. Tampak dua orang anak bersepeda melintasi Malioboro yang lengang. (Sholahudin Alwi/koranbernas.id)


KORANBERNAS.ID
– Dua pelajar SMP itu tampak bisa bersantai mengayuh sepedanya melawan arus di jalur lambat Jalan Malioboro, Selasa (26/09/2017) siang.

Beberapa wisatawan mancanegara (wisman) juga terlihat melenggang bebas di kawasan wisata tersebut tanpa harus berdesak-desakan atau mencari celah dan beringsut di antara lapak pedagang kaki lima (PKL).
Di hari biasa, ini sulit terjadi karena bagi Malioboro PKL adalah satu yang tidak bisa dipisahkan. Tapi siang itu semua orang bisa menikmati suasana Malioboro yang lengang tanpa pedagang kaki lima (PKL).

Ya, hanya sehari saja. Ini merupakan program Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta yang diadakan setiap 35 hari sekali atau selapanan, setiap hari Selasa Wage.

Baca Juga :  Ibu-ibu, Gunakan Smartphone Sesuai Fungsinya

Secara kebetulan kegiatan ini diawali di bulan Sura tepatnya lima hari setelah Tahun Baru Hijriyah 1439, ditandai acara bersih-bersih kawasan Maliboro oleh para pedagang PKL bersama Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi.
Malioboro sehari tanpa PKL berlaku total untuk PKL sisi barat maupun sisi timur. Dengan tidak adanya satu pun PKL berjualan, suasanya Malioboro tampak lain dari hari-hari biasanya.

Masyakat merasakan suasana lega. Sejumlah karyawan dan karyawati toko dapat bergerak bebas di depan toko tempatnya bekerja. Tidak sedikit wisatawan kemudian memanfaatkan momentum tersebut untuk foto selfie.
Selepas Dhuhur, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan jajarannya menyempatkan diri meninjau langsung ke kawasan Malioboro. (ros)

Baca Juga :  Semoga Jadi Amal Kebaikan di Akhirat Kelak