Nilai-nilai Qurban

116

PERISTIWA sejarah Hari Raya Qurban atau Idul Adha, dari kisah perintah Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra kesayangan satu-satunya bernama Ismail, seorang anak laki-laki buah hatinya dengan Siti Hajar. Kemudian, Tuhan menggantinya dengan hewan kurban seekor kambing, yang dibawa oleh Jibril AS.

Menurut Sayyid Rasyid Ridha, bahwa ibadah qurban menunjukkan perjuangan kebenaran yanag menuntut tingkat kesabaran, ketabahan dan pengorbanan yang tinggi. Namun, makna yang tersirat dari peringatan hari besar Islam, banyak yang belum dipahami oleh sebagian umat Islam. Kemarin, Pemerintah Indonesia telah menetapkan hari raya tahun ini tanggal 22 Agustus 2018 atau 10 Dzulhijjah 1439 H.

Memaknai pemahaman nilai-nilai qurban yang terkandung di dalamnya yaitu nilai ketaatan dan nilai kemanusiaan. Ada pun diskripsi nilai-nilai qurban sebagai berikut: pertama, ketaatan. Sebagai seorang hamba kita taat akan semua printah-printah Allah dan menjahui larangan-larangan-Nya. Sebagaimana kisah tentang Nabi Ibrahim AS, yang rela mengorbankan putranya Ismail, demi menaati perintah Allah. Nilai pengorbanan yang didasari ketulusan hati dengan mengorbankan apa saja yang kita cintai dan kita banggakan, wujud dari ketaatan kita kepada Allah SWT. Dalam hal rasa cinta dan ketaatan ini, Allah SWT berfirman sebagai berukut :

Baca Juga :  Pembelajaran Batu Akik Model Klawing

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj :37)

Kedua, Idul Adha merupakan momen menyampaikan pesan nilai kemanusiaan. Ajaran berkurban memberikan pesan kepada kita bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Kemanfaatan aspek sosial kemanusiaan dengan membagikan hewan qurban kepada yang berhak mendapatkannya, agar mereka dapat ikut merasakan daging qurban tersebut. Hal ini, menumbuhkan rasa indahnya berbagi dan persaudaraan.

Keteladaan Nabi Ibrahim As memiliki nilai-nilai pengorbanan yang mengedepankan kecintaan dan ketaannya kepada Allah. Ia mengesampingkan dan menegasikan egonya.

Baca Juga :  Demokrasi di Titik Nadir

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, sebagaimana teladan dari para pendiri bangsa kita yang telah menegasi egonya masing-masing, dengan kesadaran bersama demi persatuan anak bangsa dalam merumuskan Pancasila. ***

Rustam Nawawi, S.Pd.I

Penulis buku Islam dan wakil Sekretaris LD PWNU DIY