Ny Legiyem dan Tikar Mendongnya

563

KORANBERNAS.ID – Meski memasuki lanjut usia, Ny Legiyem terlihat masih cekatan menganyam tikar mendong. Di rumahnya RT 1 Pedukuhan Kayuhan Wetan Triwidadi Pajangan Bantul, Rabu (18/10/2017) siang, terlihat tumpukan mendong siap anyam.

Tak berselang lama, tikar mendong ukuran tiga kilan itu pun rampung. Supaya tidak terbalik terkena tiupan angin sekaligus memudahkan proses menganyam, Legiyem meletakkan dua besi pemberat timbangan di atasnya.

Ya… sudah lama. Sejak sekitar tahun 1970,” tuturnya menjawab pertanyaan sejak kapan membuat tikar mendong. Siang itu, dia tampak sumringah menerima kunjungan jurnalis Forum Wartawan Unit Kepatihan yang mengikuti kegiatan Pers Tour Dalam Daerah ke Bantul.

Produk UKM Tikar Mendong Ny Legiyem memang tampil lugu apa adanya, seperti warna mendong asli yang natural. Ini bukan disengaja tetapi karena memang hanya seperti itu yang dia mampu membuatnya.

Ini berbeda dengan produk serupa di daerah lain yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan warnanya lebih ngejreng. Justru karena natural itulah ada saja yang tertarik. Apalagi harganya terjangkau. Tikar kecil ukuran tiga kilan dipatok hanya Rp 5.000. Sedangkan ukuran besar Rp 35.000. “Berapa senti ini ya saya nggak tahu,” ujarnya.

Baca Juga :  Obat Pabrik Mahal Herbal Solusinya

Sejak ada tikar plastik, Ny Legiyem mengakui peminat tikar mendong berkurang. Padahal jika mau jujur, tikar mendong lebih nyaman dan enak dipakai termasuk untuk alas tidur di lantai.

Dia bersama perajin lainnya sebenarnya ingin mendong itu tidak hanya dianyam jadi tikar saja. Misalnya, dibuat topi atau tas. Hanya saja kendalanya, selain tidak ada yang melatih, juga terkendala keterbatasan dana. “Kalau ada pelatihan ya mau,” ungkapnya berandai-andai.

Tikar buatan Ny Legiyem memang hanya beredar di sejumlah pasar tradisional wilayah Bantul. Itu pun tidak semua pasar ada karena memang daya jangkau pemasarannya terbatas, meski kadang-kadang ada bakul datang untuk kulakan.

Perajin tikar mendong di Pedukuhan Kayuhan Wetan Bantul rata-rata lanjut usia. Anak-anak muda sepertinya tidak tertarik menekuni kerajinan ini. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Legiyem terus terang mengakui saat ini anak-anak muda sepertinya sudah tidak tertarik lagi menekuni kerajinan tersebut. Alasannya sederhana karena ingin serba cepat. Padahal, membuat tikar anyaman mendong butuh ketelatenan dan tentu saja kesabaran. “Yang muda-muda sudah nggak ada. Nggak sranta,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dukung KPU Wujudkan Data Pemilih yang Akurat

Kepala Seksi Publikasi, Dokumentasi dan Media Massa Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY Dra Hj Ec Sukarmi MM mengatakan, melalui kegiatan ini diharapkan terjalin kerja sama kemitraan.

Kegiatan pers tour ini juga sebagai salah satu upaya Pemda DIY turut serta mempromosikan potensi daerah yang perlu diangkat dan dipublikasikan sehingga lebih dikenal luas di masyarakat.

Camat Pajangan Yulius Suharta beserta jajaran Humas Pemerintah Kabupaten Bantul menyambut baik kegiatan tersebut. Selain tikar mendong, wilayah Pajangan memiliki banyak potensi usaha masyarakat yang perlu diangkat, seperti emping garut, gula Jawa maupun batik. “Kami mencoba menggali potensi di desa-desa agar menjadi potensi unggulan,” kata Yulius. (sol)