Nyamuk DB Tak Lagi Betah di Rumah

195
Peserta rapat koordinasi penanggulangan Demam Berdarah Dengue. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Nyamuk aedes aegypti atau penyebar demam berdarah (DB) ternyata sudah tidak betah tinggal di dalam rumah.

Nyamuk-nyamuk itu kemudian bermigrasi ke luar rumah karena kenyamanan berkembang biak  di ruangan rumah diusik oleh upaya pemberantasan dengan obat abate secara rutin.

Sekarang yang harus diwaspadai adalah tempat-tempat air bersih menggenang di luar rumah seperti pot, botol-botol terbuka dan sebagainya.

Selain itu, juga di bawah ember, nat atau sambungan antar-keramik terbukti terdapat uget-uget atau bakal nyamuk. Termasuk air belakang kulkas atau tampungan tetesan air dispenser harus selalu dikeringkan.

Inung Purwati Saptosari. (arie giyarto/koranbernas.id)

Hal itu disampaikan Inung Purwati Saptosari dari Kelurahan Siaga (Kesi) Sorosutan Kota Yogyakarta dalam rapat koordinasi penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) wilayah RW 08 di Hotel Cakra Style Jalan Menteri Supeno, Sabtu (21/04/2018) petang.

Saat ini obat abate pun sudah tidak direkomendasikan lagi untuk diberikan di tandon-tandon air dalam rumah karena unsur kimianya yang tidak sehat dimasukkan dalam air yang dikonsumsi.

Baca Juga :  Muhammadiyah Gencar Internasionalisasi Dakwah

“Di bak kamar mandi pun tidak. Meski tidak dikonsumsi namun airnya juga dipakai kumur-kumur saat sikat gigi sehingga dikhawatirkan ada yang tertelan,” kata Inung.

Sekarang pun, banyak yang menolak fogging atau pengasapan. Karena tingkat kepekatan campuran solar dan pestisidanya sangat tinggi.

Apalagi fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa yang beterbangan. Sedang sarang nyamuknya tidak tersentuh.

Oleh karena itu menurut Inung, cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus lebih digalakkan dan dilaksanakan secara kontinu. Kerja bakti yang melibatkan seluruh warga dan sudah berlangsung  belakangan ini harus diteruskan.

Sehingga, sarang-sarang nyamuk terberantas. Pemantauan jentik oleh para Jumantik atau juru pemantau jentik satu rang di setiap RT harus tetap diaktifkan.

Hal-hal seperti itu akan lebih efektif bila sudah terbentuk RW Siaga. Ke bawah lagi akan ada RT Siaga dan mengerucut ke  Dasa Wisma Siaga.

Dengan begitu, permasalahan kesehatan lingkungan akan terdata baik dan secara mandiri bisa diambil langkah-langkah penanggulangannya. Paling tidak koordinasi dengan siaga di atasnya akan cepat terjalin.

Baca Juga :  Satpol PP Ultimatum PKL yang Berjualan di Trotoar

Hal ini penting, khususnya wilayah Sorosutan pernah terjadi endemi DBD dan kasusnya tertinggi se Kota Yogyakarta. Meskipun tren angkanya semakin turun namun kesiagaan itu harus tetap dijaga.

Pada kesempatan itu telah terbentuk RW Siaga 08  dengan ketua Gusti Heryani.

Ketua RW 08 Kelurahan Sorosutan RM Santosa Irianta SIP. (arie giyarto/koranbernas.id)

Sementara itu, berkait dengan proyek saluran air hujan (SAH)  yang dibangun di beberapa RT, Ketua RW 08 Kelurahan Sorosutan RM Santosa Irianto SIP mengatakan, SAH tersebut sedianya dibangun di alur saluran lama.

Namun dengan pertimbangan di atas saluran lama sudah banyak ditanami pohon perindang, bahkan juga bangunan maka saluran dibuat di samping saluran lama. Nantinya saluran lama itu akan ditableg agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Rapat koordinasi yang dipimpin Ketua RW 08 tersebut diikuti ketua-ketua RT dan PKK se-wilayah RW 08, para petugas Jumantik serta pemuka masyarakat setempat. (sol)