Oh, Geng Kampung

113

GENG kampung menciderai kedamaian Yogyakarta, dan kota-kota lain di negeri Pancasila. Kekerasan, penganiayaan, sampai pembunuhan menjadi modus operandinya. Masyarakat menjadi resah dan gelisah. Duka mendalam atas korban-korban tragedi ini.

Para guru, ulama, aparat penegak hukum seakan kehabisan akal menghadapinya. Nyata betul, tindakan tegas kepada pelaku selama ini tak efektif. “Bagai menyiram api dengan air, tetapi titik-titik api kekerasan terus berkembang liar”. Pola pikiran Hobbesian yang mempercayakan kedamaian sosial kepada aparat hukum negara, terbukti meleset.

Geng kampung, merupakan komunitas kejahatan, sebagai akumulasi masalah-masalah remaja, terkait dengan rendahnya moralitas pada skala nasional. Ukuran-ukuran baik atau buruk perilaku kehidupan bersama mengalami degradasi ke titik nadzir. Anak-anak bangsa, terjebak dalam gelapnya lorong kehidupan. Sinar cerah penyejuk suasana batin, jauh dari jangkauannya.

Perilaku geng kampung merupakan kejahatan irasional, sulit dinalar, tetapi nyata, dan berakibat fatal terhadap nyawa manusia. Akal-pikiran pelakunya, sudah bermasalah sejak awal. Sederet faktor-faktor menghinggapinya, sehingga mereka enteng melakukannya, tanpa merasa salah dan dosa.

Terpikirkan, perlunya langkah-langkah mendasar, berupa internalisasi moralitas – character building – melalui pendidikan dan aktivitas sosial lainnya. Internalisasi moralitas mesti diarus-utamakan dan menjadi tanggung jawab bersama, antara keluarga, lingkungan dan pemerintah

Pertama, optimalisasikan potensi-potensi jiwa. Optimalisasi bertolak dari kalbu, diikuti olah akal, berlanjut aktivitas ragawi, berupa sikap dan perilaku jujur, amanah, dan ramah. Berikan pemahaman bahwa orientasi kehidupan mesti tertuju kepada keberkahan hidup. Potensi nafsu perlu dikendalikan, agar kehidupan tidak sesat, tidak melampaui batas, tidak merusak keharmonisan. Ketika nafsu terkendali, maka tiada mungkin muncul kejahatan.

Baca Juga :  Menuju Kota Inklusi

Kedua, optimalisasikan cinta dan kasih-sayang. Moralitas sarat ajaran-ajaran kasih-sayang. Rohani perlu diasupi nutrisi batiniah berupa: ajaran agama, ilmu, dan seni. Dengan agama, hidup pasti terarah. Berbekal ilmu, hidup menjadi cerah. Dihiasi seni, hidup menjadi indah. Budayakan berkasih-sayang secara horizontal (kepada pihak-pihak lain), dan secara vertikal (kepada Sang Pencipta). Kasih-sayang, perlu dibuat ranking. Kecintaan kepada Sang Khalik berada dipuncak dan mutlak. Sementara kecintaan kepada pihak-pihak lain, berada di ranking bawahnya. Pengoptimalan rasa cinta dan kasih-sayang sesuai ranking, dalam konteks ruang dan waktu.

Ketiga, moralitas sosial, hadir untuk kehidupan bersama, agar kita bahagia dunia-akhirat. Moralitas senantiasa eksis dan fungsional sebagai pandangan hidup, agar aktivitas-aktivitas berada di jalan kemuliaan. Perilaku geng kampung tergolong pelanggaran moral, hukum, dan agama. Pelakunya wajib ditimpakan sanksi, setimpal dengan kadar kejahatannya. Remaja lainnya, perlu dibentengi agar tidak terperosok menjadi kader penjahat berikutnya.

Keempat, martabat seseorang sangat ditentukan kebermanfaatannya bagi pihak lain, dan tingkat pengabdiannya kepada Tuhan-Nya. Berbuat kebaikan, merupakan cerminan akhlakul karimah. Sebaliknya, pembiaran nafsu berkembang liar, merupakan wujud sifat-sifat hewaniyah. Runtuhnya harga diri manusia (bahkan bangsa) ketika dia memperturutkan hawa nafsu. Harga diri perlu dijaga, agar senantiasa bermartabat di hadapan manusia lain, maupun di hadapan Tuhan-Nya.

Baca Juga :  OTT Kepala Daerah

Kelima, seluruh potensi kemanusiaan, perlu diabdikan untuk kehidupan bersama. Pihak lain pun berhak hidup aman, nyaman, dan damai. Seiring dengan itu, maka geng kampung dan segala komunitas terorisme sosial, wajib ditangkal dan diperangi. Kekerasan perlu diubah menjadi kelembutan. Interaksi antarsesama manusia perlu dijalin dalam nuansa dan spirit pansubyektivitas, saling menghormati sebagai sesama subyek.

Jangan biarkan geng kampung semakin merekah, memanas, dan mematikan. Alangkah bagusnya bila gugurnya korban-korban geng kampung dijadikan momentum pengkokohan moralitas, peningkatan martabat, sehingga muaranya terwujud remaja-remaja bertaqwa. Lima ajaran moralitas di atas, perlu diderivasikan ke dalam tindakan-tindakan konkrit.

Rawatlah bunga-bunga bangsa agar tidak mengering, dan dibuang sebagai sampah. Rawatlah agar ulat bermetamorfosa menjadi kepompong,  dan lahir sebagai kupu-kupu nan indah, penebar kedamaian. Geng kampung pada hari ini menjadi lawan, tetapi pada hari nanti menjadi kawan.

Bagaimana pengimplementasian lima ajaran moralitas di atas? Mari kita rembug bersama. ***

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si., Guru besar Ilmu Hukum UGM

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi No. 19/2018, 29 Juni – 11 Juli 2018).