Ortu Sambut Baik Rencana Pencabutan Lima Hari Sekolah

286

KORANBERNAS.ID—Kabar akan dicabutnya kebijakan lima hari sekolah disambut baik oleh wali murid di Kulonprogo. Selain membuat anak-anak kelelahan, kebijakan ini dinilai juga merugikan dalam beberapa hal.

Guntara (43) salah seorang wali murid sekolah di Bendungan mengaku kasihan anaknya kelelahan karena pulang sekolah sore hari.

“Biasanya pulang sekolah setelah makan kemudian bermain. Sekarang ini pulang sekolah paling tiduran. Malam juga jarang mau belajar, karena katanya sudah lelah,”ujar Guntara warga Giripeni.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Komite SD Karangsari, Pengasih, Umar Maksum. Menurutnya ada nilai-nilai positif yang muncul dari kebijakan lima hari sekolah. Namun masih lebih banyak ruginya. Sehingga dia menyarankan, sebaiknya kebijakan lima hari sekolah menjadi pilihan bagi masing-masing sekolah dan bukan sebuah kewajiban.

“Kalau dari penelitian kami, wali murid mengaku terjadi pembengkakan pengeluaran. Jadi karena anak lebih lama di sekolah, uang jajan yang sebelumnya Rp 2.000 bisa menjadi Rp 5.000,” ujar mantan wartawan tersebut

Baca Juga :  TNI Ikut Kendalikan Pertumbuhan Penduduk

Jajaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kulonprogo menyatakan, tak masalah lima hari atau enam hari. Instansinya hanya melaksanakan kebijakan pusat.

Sekretaris Disdikpora, Teguh Eko menyatakan, rencana munculnya Perpres Pendidikan Karakter, Kulonprogo sudah lebih siap untuk menerapkan Perpres itu. Karena Kulonprogo sudah memiliki Peraturan Daerah No.18/2015 tentang Pendidikan Karakter.

Saat ini  jajarannya sedang menyusun sejumlah materi yang akan dimasukkan ke dalam penerapan Pendidikan Karakter. Antara lain budaya kemataraman, reliji, nasionalisme, kebangsaan dan Pancasila. Materi ini  akan diselipkan dalam pengajaran, atau dalam ekstrakurikuler.

“Kami ingin bangun tiga indikator pokok. Pemahaman, pengamalan dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila. Kami berpikir, itu bisa membangun semangat persatuan dan kesatuan bangsa dan menjamin keutuhan bangsa,” tuturnya.

Baca Juga :  Akhirnya, Lab Peninggalan Warga Jepang Ini Diperhatikan

Ia berharap, bila nantinya memang ada aturan khusus tentang Pendidikan Karakter, pemerintah pusat memiliki poin yang khusus, detail, mudah dipahami dan mudah diterapkan di lapangan. Agar tidak ada kesalahpahaman yang membuat munculnya konflik. Karena pada dasarnya, seluruh kebijakan yang dibuat pemerintah pusat, adalah ingin membawa bangsa ini menjadi lebih baik

Teguh Eko mengungkapkan, pada dasarnya apabila memang benar kebijakan lima hari sekolah dibatalkan, Kulonprogo tidak mendapatkan persoalan berarti.

Ia menjelaskan, selama kebijakan lima hari sekolah diterapkan di Kulonprogo persoalan yang  muncul adalah makan siang. Terutama di wilayah pegunungan, seperti Girimulyo dan Samigaluh.

“Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, akhirnya orang tua yang ke sekolah mengantarkan makan siang,” ujarnya.(SM)