“Paling Banter Jadi Tukang Komen”

283
Forum Pelatihan Digital Public Relations, Jumat (22/09/2017), di Gedung Unit IX Lantai III Kompleks Kepatihan. (solahudin alwi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Masyarakat boleh mengikuti kemajuan teknologi digital, namun demikian upayakan jangan pasif supaya tidak menjadi korban teknologi itu sendiri. Nasihat yang disampaikan Ketua Masyarakat Digital Jogjakarta (Masdjo) Eko Nuryono ini, sepertinya perlu jadi bahan pemikiran.

“Pertanyaannya, posisi kita di mana? Apa hanya jadi tukang share, maka kita ibarat sampah informasi. Atau paling banter jadi tukang komen, semua dikomen sehingga tak ada impact positif,” ungkapnya, Jumat (22/09/2017) saat menjadi pembicara Forum Pelatihan Digital Public Relations, Jumat (22/09/2017), di Gedung Unit IX Lantai III Kompleks Kepatihan.

Mestinya, lanjut dia pada kegiatan yang diselenggarakan Seksi Penyiapan Informasi Kebijakan (PIK) Bidang Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY tersebut, masyarakat harus aktif supaya kemajuan teknologi digital membawa manfaat positif bagi Yogyakarta.

Eko menegaskan, di saat banyak organisasi didirikan dengan tujuan mengakses Dana Keistimewaan (Danais), sejak awal Masdjo tidak berorientasi ke arah itu. “Kita sudah tekankan ini dari awal,” ujarnya.

Pihaknya memiliki komitmen berupaya menutup konten-konten negatif tentang Jogja dengan konten positif. Konten negatif bukan dihilangkan akan tetapi dibuat menjadi tidak laku. “Semakin banyak konten positif maka Jogja semakin bagus,” tandasnya.

Dia mengakui, semua pengguna media sosial (medsos) memiliki kebanggaan jika men-share yang positif. Potensi inilah yang perlu digarap sebagai PR (Public Relations)-nya Jogja. Hanya saja sebelum share, terlebih dahulu konten berupa teks, visual atau video perlu dikemas. Sebagus apapun konten jika tidak bisa mengemasnya maka tidak menarik bagi publik.

“Banyak orang suka gambar bergerak. Ada juga yang lebih suka gambar yang menarik daripada tulisan utuh. Artinya perlu kreativitas,” paparnya.

Dalam sesi tanya jawab, Anang, pustakawan BPAD DIY menyatakan banyak prestasi nasional diraih DIY tapi kesulitan publikasi karena terganjal administrasi seperti SPJ atau Bend 26. Akhirnya, prestasi yang membanggakan itu tidak bisa diketahui publik.

Menjawab hal itu, Kepala Diskominfo DIY Ir Rony Primantoro Hari MT didampingi Kepala Bidang Pemerintah Bappeda DIY Drs Biwara Yuswantana MSi sepakat, sudah seharusnya pejabat di lingkungan Pemda DIY mengubah pola komunikasi.

“Di era digital kita harus sudah berubah. Hanya saja ini tak segampang yang dibayangkan. Pernah kami mencoba menutup akses internet untuk youtube dan facebook karena bandwidth tersedot untuk download dan nge-like pada jam kerja PNS,  tapi dalam perkembangannya kita tidak bisa menutup akses,“ kata Rony seraya menambahkan era digital merupakan tantangan tersendiri bagi jajaran humas pemda. (sol)