Pancasila Tidak Cukup Hanya Dibahas

171
Teatrikal dalam Diskusi Kebangsaan di Kampung Mataraman, Jalan Ring Road Selatan, Glugo, Pendowoharjo, Sewon, Senin (26/03/2018). (Sari Wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Indonesia yang terdiri lebih dari 600 suku , 600 bahasa dan lebih 600 seni budaya dari berbagai daerah hingga saat ini tetap kokoh berdiri. Bahkan 17 Agustus mendatang akan mencapai usia 73 tahun.

Kondisi ini berbeda dengan Uni Soviet yang tidak sampai memiliki 100 suku bangsa, namun  saat ini sudah hilang dari peta dunia. Begitupun Yugoslavia yang jumlahnya  tidak lebih dari 30 suku, jugai telah hilang dari peta dunia.

“Indonesia hingga kini tetap tegar dan kokoh berdiri karena dasar negara Pancasila yang  mampu menyatukan bangsa,”kata Anggota DPR RI, Idham Samawi saat tampil sebagai narasumber dalam diskusi kebangsaan “Pengamalan Pancasila Dalam Mensejahterakan Rakyat” di Kampung Mataraman, Jalan Ring Road Selatan, Sewon, Bantul Senin (26/03/2018).

Acara hasil kerjasama dengan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) tersebut juga menghadirkan pembicara pakar ekonomi kerakyatan, Revrisond Baswir dan perwakilan BUMMDes Panggungharjo.

Untuk itulah menurut Idham, dasar negara Pancasila sudah  harga mati yang tidak bisa diotak-atik dan digantikan. Maka segala kebijakan pemerintah yang akan diambil untuk kepentingan bangsa dan negara serta masyarakat, harus mengacu kepada Pancasila.

Sementara Revrisond mengatakan untuk membangun negara ini agar maju dan berkembang serta sejahtera  seperti diharapkan para pejuang kemerdekaan adalah menerapkan ekonomi kerakyatan sebagaimana amanat dalam dasar negara. Bentuknya seperti koperasi, dimana koperasi dibentuk secara gotong royong sebagai bagian dari ruh bangsa ini.

“Ketika bicara mengenai Pancasila, maka kita tidak cukup hanya bicara kemudian diterjemahkan sendiri-sendiri termasuk dalam pembangunan ekonomi,”katanya.

Namun bagaimana kita semua harus menggali pemikiran-pemikiran dari para pencetus Pancasila, seperti Bung Karno, Bung Hatta, DR Syahrir dan lainnya.

“Salah satunya adalah koperasi yang menjadi soko guru ekonomi negara. Ini yang harus kita kuatkan dan kembangkan,”katanya.

Karena koperasi didirikan secara bersama-sama dan untuk kesejahteraan bersama. Selain itu langkah lain yang bisa dilakukan adalah dengan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) seperti di Desa Panggungharjo yang mendirikan Kampung Mataraman.

Di tempat ini semua yang bekerja adalah masyarakat Panggungharjo dan ketika ada keuntungan juga dikembalikan kepada masyarakat Panggungharjo.

Kampung Mataram merupakan sebuah tempat untuk makan dan juga santai yang didesain ala Kerajaan Mataram dan didirikan di atas tanah kas desa sejak beberapa bulan silam.

Menu yang disajikan juga khas pedesaan masa lampau, termasuk mereka yang memasak dan menyajikan mengenakan busana seperti zaman kerajaan Mataram.

“Seperti inilah implementasi nyata dari ekonomi  kerakyatan yang diharapkan Pancasila. Sehingga segala kekayaan bangsa dan negara ini, bumi, air dan udara  dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat,”katanya. (SM)