Panen Raya Kelengkeng, Pejabat dan Tamu Dibuat Kaget 

338
Buah kelengkeng hasil panen raya ditata di atas meja. Sehingga tamu dan pejabat yang hadir bisa menikmati dengan leluasa. (Arie Giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Pejabat dan tamu undangan, dibuat kaget saat hadir dalam acara panen raya buah kelengkeng, di Kampung Sanggrahan, Kelurahan Giwangan, Umbulharjo Yogyakarta, Selasa (20/02/2018) pagi.

Kaget, bukan hanya karena pohon-pohon kelengkeng di kampung ini berbuah lebat dan besar-besar, tapi juga karena ada dahan pohon kelengkeng yang sempat patah dengan suara keras. Kraakkkk.

Patahnya dahan pohon kelengkeng ini, lantaran masyarakat berebut ikut memanen kelengkeng dengan cara menarik ujung ranting dengan beramai-ramai agar bisa memetik buahnya (ditiyungkan). Namun dahan yang patah ini hanya sesaat membuat kaget hadirin dan warga. Warga yang hadirpun kemudian berebut membuka brongsong dan memetik kelengkeng dan membawanya pulang dengan suka cita.

Acara panen raya ini sendiri, ditandai dengan pemotongan untaian buah pertama kali oleh Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam X dari pohon yang lebat buahnya di halaman Kantor Kelurahan Giwangan. Didampingi Wakil Walikota Yogyakarta Drs Heroe Purwadi, Wakil Ketua DPRD DIY Drs Arif Noor Hartanto, Kepala Dinas Pertanian DIY dan pejabat lain.

Usai pemotongan pertama, diikuti panen massal oleh masyarakat.  Dalam waktu singkat pohon-pohon kelengkeng di halaman kantor kelurahan itu pun ludes buahnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Guru, PGRI dan Rotary Bersinergi

Hasil panenan yang oleh MC Dalidjo diumumkan seharusnya  dikumpulkan di meja yang sudah disediakan, sebagian besar dibawa langsung oleh warga dan undangan dengan riang gembira.

Puluhan tangkai penuh dengan buah klengkeng yang dipersiapkan panitia dari sejumlah pohon warga setempat ditata di meja tengah bersebelahan dengan minum dan makanan yang dihidangkan secara swalayan. Dengan demikian tanpa berebut seluruh tamu pun dengan santai mengambil buah kelengkeng segar yang masih teruntai di gagangnya itu.

Kelengkeng yang dipanen tersebut merupakan sebagian hasil dari 170 pohon bantuan Pemerintah Kota Yogyakarta tahun 2015. Menurut Wakil Walikota, kampung Sanggrahan tahun 2017 mendapat tambahan lagi150 bibit pohon.

Hal ini dinilai oleh Wakil Walikota sebagai salah satu bentuk keberhasilan masyarakat perkotaan memanfaatkan lahan sempit guna meningkatkan pendapatan serta menghijaukan lingkungan.

Sekaligus melengkapi adanya 33 kampung sayur yang sudah mampu memasok sayuran ke toko swalayan dan pasar tradisional. Secara integratif akan saling melengkapi menjadi bagian dari program “nggandheng nggendhong” antara Dinas Pertanian dan Kantor Lingkungan Hidup.

Sementara itu, Yanto tokoh masyarakat setempat menyatakan bahwa usaha ini merupakan bentuk nyata masyarakat untuk menghapus stigma miring Sanggrahan (yang semula lokalisasi WTS-red) menjadi kesan positif.

Baca Juga :  Menikmati Eksotisme Alam Curug Lawe
Dahan pohon kelengkeng yang lebat buahnya semplak di perebutkan warga yang ikut panen raya di halaman Kantor Kelurahan Giwangan, Selasa (20/02/2018). (Arie Giyarto/koranbernas.id)

Julukan SG yang semula negatif akan tetap SG, namun sebagai kependekan dari Sanggrahan Garden sesuai semangat baru masyarakat setempat membangun diri dan kehidupannya. Sebagai calon destinasi wisata banyak potensi yang siap dikembangkan. Di antaranya kuliner, seni budaya dan lain-lain.

Bentuk Keberhasilan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wagub menilai, warga telah mampu menunjukkan bahwa budidaya kelengkeng merupakan salah satu cara  meningkatkan pendapatan. Tanaman ini bisa memberi hasil memadai, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Diharapkan hal ini akan menjadi contoh dan motivasi bagi wilayah lain dalam meningkatkan kesejahteraan warganya.

Dalam dialog dengan warga, muncul permohonan agar wilayah  itu bisa  mendapat bantuan gamelan memanfaatkan Dana Keistimewaan. Sebagai upaya untuk mengembangkan seni budaya mendukung daerah itu sebagai daerah tujuan wisata nantinya.

Menanggapi permohonan tersebut, Wagub Sri Paku Alam X berharap proposalnya bisa diproses melalui Pemerintah Kota Yogyakarta. Tentu saja melalui prosedur dan mekanisme yang ada.

Kehadiran Wagub dan rombongan disambut dengan karawitan yang pengrawitnya sebagian besar para lanjut usia. Juga penampilan tari Golek Ayun-ayun. (SM)