Pangsa Pasar Asuransi Syariah Baru 5 Persen

321

— Pangsa pasar asuransi syariah di Indonesia masih sangat minim pada saat ini. Angkanya baru di kisaran Rp 33,41 triliun atau sekitar 5 persen dari jumlah aset asuransi nasional yang sebesar Rp 917,36 triliun.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Kalijaga, Syafiq Mahmadah Hanafi, Rabu (16/08/2017) mengungkapkann, di tengah perkembangan ekonomi yang kurang bersahabat, perkembangan industri asuransi syariah dalam kurun waktu 2015-2016 terbilang sangat berarti. Data menunjukkan, aset perusahaan asuransi syariah per Oktober 2016 sebesar 33,41 triliun.

“Di tahun sebelumnya (2015-red) baru 24, 63 triliun,” ujarnya di kampus setempat.

Menurut Syafiq, faktor yang mempengaruhi rendahnya pangsa pasar asuransi syariah cukup banyak. Diantaranya tingkat pengetahuan dan keyakinan masyarakat tentang lembaga jasa keuangan masih minim.

Baca Juga :  Memprihatinkan, Masih Sedikit Kampus Ajarkan Ekonomi Pancasila

Berdasarkan Indeks Literasi Perasuransian yang dibuat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan masyarakat Indonesia yang well literate utilitas baru mencapai 12 persen. Lahirnya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi menjadi angin segar bagi industri keuangan syariah Indonesia.

“Artinya ada political will dan good will dari pemerintah untuk mendorong pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia. Tinggal kalangan praktisi dan akademisi melanjutkan dengan kerjasama-kerjasama yang intens dan melakukan gerakan-gerakan nyata yang berkesinambungan,” jelasnya.

Karenanya, lanjut Syafiq perlu adanya edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang konsep asuransi syariah di Indonesia secara komprehensif. Pemahaman dari para regulator, ahli dan praktisi sangat dibutuhkan untuk mendorong peningkatan pangsa pasar industri asuransi syariah.

Baca Juga :  Hapus Stigma Nuklir Identik Bom

Selain itu merekatkan silaturahmi dan memadukan gerak langkah antara akademisi, stakeholder ekonomi syariah dan para praktisi asuransi syariah. Dengan demikian dapat memacu pengembangan industri asuransi syariah di Indonesia.

“Banyak pihak perlu dilibatkan dalam edukasi seperti pengusaha, praktisi lembaga keuangan syariah, profesional, ibu rumag tangga, kelompok arisan, akademisi, pesiunan dan masyaraka,” imbuhnya.(Tugeg Sundjojo/yve)