Pantau Keberadaan Elang, YKAK Pasang Satellite Tracking Ini

243
Tim YKAY memasang satellite tracking pada elang yang dilepasliarkan, Selasa (20/02/2018). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) memasang satellite tracking pada elang yang dilepasliarkan. Hal itu dilakukan agar keberadaannya terpantau.

Beberapa lembaga yang terlibat adalah BKSDA DIY, YKAY, FKH UGM, Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), Raptor Indonesia (RAIN), YKEI/Suaka Elang, Center for Orangutan Protection (COP), Yayasan Kutilang, Yayasan ACTION Indonesia. Pada 25 Februari 2018 mendatang YKAY bersama mereka kembali melepasliar seekor elang brontok (Nisaetus cirrhatus) di kawasan Hutan Rakyat (Tahura) Bunder, Playen, Gunungkidul.

Muhammad Tauhid dari Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), menjelaskan, pemasangan satellite tracking tersebut bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai spesies Elang Brontok. Alat bekerja dengan cara mengirimkan data melalui satelit ke server.

Data yang dapat diperoleh antara lain ketinggian jelajah, wilayah jelajah, kecepatan terbang, dan suhu lingkungan. Alat ini menggunakan tenaga surya sehingga dapat bertahan dua hingga tiga tahun.

“Alat ini mengirimkan titik koordinat selama beberapa hari dan beberapa bulan, membentuk sebuah pola dari wilayah tertentu, termasuk ketinggian terbang burung yang bervariasi sesuai kontur habitat. Nanti bisa dianalisis dengan rumus tertentu, apakah dia di wilayah itu untuk membangun habitat atau hanya sekadar lewat,” tuturnya, di sela temu media, di Wildlife Rescue Centre, Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Selasa (20/2/2018).

Alat seperti itu sydah pernah dipasang pada elang yang dilepasliarkan di Gunung Picis, Ponorogo, Jawa Timur. Dengan alat hasil kerjasama FKH UGM dan Max Planck Institute for Ornithology Jerman (sebuah lembaga penelitian Jerman yang fokus melakukan penelitian burung yang ada di seluruh dunia), maka posisi burung yang dilepasliar, gambaran wilayah jelajah hingga poin lain di lapangan akan langsung terpantau. Sehingga, data yang didapatkan bisa menjadi model percontohan untuk daerah lainnya khususnya di Jawa, dengan alat ini tim tidak perlu survei turun ke lapangan lagi untuk mencari lokasi pelepasliaran yang cocok.

Anggota tim dokter hewan YKAY, Irhamna Putri Rahmawati mengatakan Elang Brontok yang akan dilepasliar di Gunungkidul tersebut kondisinya cukup baik dan negatif penyakit berbahaya.

Sementara dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta (BKSDA DIY) Andy Candra Herwanto menjelaskan, berdasarkan pengamatan yang selama ini dilakukan, populasi dan habitat elang brontok memang belum bisa terpantau dan terdata dengan jelas. Berbeda dengan jenis raptor lainnya seperti Elang Bido yang lebih mudah dipantau.

Andy Chabdra berharap Satellite tracking dapat membantu pemantauan habitat utama raptor langka tersebut sekaligus mengetahui populasinya di DIY.

“Tahun ini BKSDA DIY akan melakukan survey populasi raptor, terutama di wilayah Kulonprogo dan Gunungkidul sehingga bisa terpetakan potensi lokasi untuk pelepasliarannya,” jelasnya.(yve)