Para Guru Baca Puisi di Tangga

155
Dua orang guru membaca puisi di tangga Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (21/07/2018) malam. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Suasana Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (21/07/2018) malam, berbeda dari biasanya. Ini karena di tempat itu berlangsung pertunjukan yang tidak biasanya.

Di antara lalu lalang penonton yang hendak menyaksikan Opera Anak Bangsa “Move” di Concert Hall TBY, di antara becak-becak dan andong, sejumlah guru memegang buku antologi.

Mereka kemudian membacakan puisi-puisi tersebut sambil berjalan dan mondar-mandir ke sudut-sudut ruangan, di atas becak, di depan pintu, di antara tempat duduk pengunjung bahkan sambil berdiri di tangga.

Masing-masing tampil dengan ekspresinya disertai suara lantang. Malam itu, mereka membacakan puisi-puisi yang terangkum dalam sebuah buku antologi berjudul Bhayangkara.
Semua puisi di buku tersebut bertema tentang polisi. Sebagian karya tersebut juga ditulis oleh anggota kepolisian.

“Sebagai pendidik, kami ingin memberi apresiasi positif. Harapannya, kita bisa mengajarkan kepada anak didik mengenai siapa saja dan apapun profesinya. Setiap profesi pasti ada tantangan,” ungkap Titi Purtati, seorang guru SD Demak Ijo kepada wartawan.

Bersama rekan-rekannya dari Forum Guru Sleman Menulis, dirinya merasa bangga bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini.

Sedangkan Suryandoro selaku ketua panitia mengatakan, puisi yang dibacakan itu sangat luar biasa bisa dan bisa menginspirasi serta memotivasi generasi muda, melalui kata-kata indah.

Kenapa dipilih tema polisi, dia menyatakan karena sebagian masyarakat masih menganggap polisi dengan konotasi negatif. “Tapi faktanya polisi sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan,” kata dia.

Dengan sentuhan puisi ini diharapkan polisi akrab dengan masyarakat sehingga antara polisi dengan masyarakat tercipta kerja sama yang indah.

Pada bagian mengenai gelaran Opera Anak Bangsa “Move” bekerja sama dengan Djarum Foundation itu, Suryandoro mengatakan pertunjukan kali ini dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Swargaloka.

Pementasan opera ini merupakan wujud rasa syukur sekaligus apresiasi bagai warga Yogyakarta. “Swargaloka tidak pernah melupakan awal sejarahnya,” ujarnya.

Swargaloka didirikan di Yogyakarta pada 17 Juni 1993 dan pada 1997 hijrah ke Jakarta. Saat pertama kali didirikan, lembaga ini dimaksudkan untuk mewadahi kreativitas para seniman alumni perguruan tinggi seni dan memberikan peluang berkarya bagi para seniman. (sol)