Pasar Farmasi Berpotensi Tumbuh Hingga Rp 400 T

221
Sie Djohan memberikan pemaparan dalam diskusi di UGM. Diskusi ini merupakan rangkaian dari kegiatan peluncuran program Ristekdikti-Kalbe Science Awards (RKSA) 2018. (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Pasar farmasi di Indonesia, memiliki potensi untuk tumbuh hingga Rp 400 triliun, dari posisi sekarang sebesar Rp 80 triliun. Untuk menuju ke sana, maka healthcare spending perlu didorong setidaknya 5 persen dari posisi sekarang yang baru sekitar 20 persen.

“Kita unggul di industri maupun populasi penduduk. Bayangkan kita memiliki sekitar 200-an perusahaan farmasi nasional. Sementara negara maju tetangga kita yakni Singapura, tidak memiliki perusahaan farmasi sendiri,” kata Direktur PT Kalbe Farma Tbk Sie Djohan, dalam diskusi “Strategi Hilirisasi Hasil Penelitian untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat” di UGM.

Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksima. Industri farmasi nasional, masih terbelit dengan persoalan ketergantungan bahan baku impor yang mencapai 90-an persen. Hal ini menjadikan industri farmasi nasional sebatas sebagai “tukang jahit”, yakni membuat formula, kemudian memproduksi dan memasarkannya.

Untuk mendorong industri farmasi nasional, menurut Sie Djohan, perlu sinergi harmonis antar seluruh pemangku kepentingan. Kalau penelitian membaik dan menghasilkan produk yang kompetitif di pasar global, ekspor produk farmasi bahkan diprediksi akan mampu bergerak mendekati angka Rp 700 triliun.

Terkait dengan hal ini, PT Kalbe Farma Tbk bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, meluncurkan program Ristekdikti-Kalbe Science Awards (RKSA) 2018 sebagai program pengembangan penelitian melalui pemberian dana penelitian yang terkait kesehatan, farmasi, pangan fungsional, teknologi informasi dan life science.

“Kita memerlukan sinergi yang harmonis antara semua elemen bangsa, khususnya akademi, industri dan pemerintah, untuk mampu bersaing sekaligus mewujudkan hasil penelitian yang memiliki nilai tinggi secara komrsial dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Djohan.

Baca Juga :  Kerajinan Topeng Khas Krebet Perlu Sentuhan

Menurutnya, inovasi dan penelitian adalah kunci penting bai kemajuan bangsa.

“Dan kami akan terus berkomitmen untuk mengembankan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menumbuhkan budaya inovasi,” lanjut Djohan.

Diskusi RKSA di Yogyakarta merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi antara akademisi, industri dan pemerintah dalam mengembangkan penelitian khususnya hilirisasi penelitian. Sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Seperti diketahui, ada beberapa tantangan perguruan tinggi dalam melakukan penelitian sampai ke tahap komersial. Antara lain masalah birokrasi/regulasi, keterbatasan dana, kualitas dan penyebaran SDM (peneliti), infrastruktur dan fasilitas laboratorium.

RKSA disebut diselenggarakan dua tahun sekali oleh Kalbe sejak 2008 adalah program apresiasi bagi para peneliti di Indonesia. Tahun 2018 ini, program difokuskan pada pendanaan penelitian dalam bidang kesehatan bagi para peneliti Indonesia. Bidang kesehatan yang telah dipilih tersebut meliputi 3 kategori, yaitu bidang farma, biofarma dan sel punca, kemudian bidang e-health, alat kesehatan, diagnostik serta bidang makanan dan minuman kesehatan, serta produk bahan alam.

Baca Juga :  Mengenal Bagong Lewat Ruang Waktu

“Total dana penelitian akan diberikan kepada 3-5 proposal terpilih dengan nilai  1,5 miliar rupiah,” katanya.

Ir Prakoso MM, Sekerataris Ditjend Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti menyambut baik program dari PT Kalbe Farma. Menurutnya, program ini akan mendekatkan kalangan industri dengan dunia akademis.

Ini penting, agar hasil-hasil riset di perguruan tinggi, semaksimal mungkin dapat ditangkap dan disemai dari awal oleh kalangan industri.

Prakoso mengakui, riset di Indonesia jauh tertinggal. Persoalan yang terjadi selama ini, bukan semata persoalan anggaran atau dana penelitian, tapi juga manajemen riset serta regulasi.

“Dana penelitian kita saat ini 24,9 triliun rupiah pertahun. Memang masih kecil. Tapi kalau ditelaah lebih dalam lagi, ternyata dari nilai itu, untuk belanja litbang hanya sekitar 43 persen. Sisanya, habis untuk perawatan gedung, belanja modal, gaji dan lain sebagainya. Artinya apa?. Artinya yang benar-benar untuk riset sendri masih kecil sekali,” kata Prakoso.

Untuk itu, prakoso berharap alokasi dana untuk penelitian tidak melulu disiapkan oleh pemerintah. Dia berharap pihak swasta ikut berperan serta dan mendorong riset.

“Di negara maju, malah peran swasta mendominasi. Kalangan swasta di Negara-negara maju sudah sangat peduli dan memahami pentingnya research & development,” tandasnya.(*SM)