Pasca-Penangkapan Oknum Dosen, Polda DIY Siagakan Satgas Cyber Crime

384
Kapolda DIY Brigjen Polisi Ahmad Dofiri menyematkan lencana Operasi Keselamatan Progo 2018. Dia menegaskan akan terus menyiagakan satgas cyber crime. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pasca ditangkapnya seorang oknum dosen tidak tetap sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Yogyakarta, TAW, dalam kasus penyebaran berita bohong atau hoax, Kapolda DIY Brigjen Polisi Ahmad Dofiri menyatakan, pihaknya terus menyiagakan Satgas Cyber Crime.

“Jadi, tim cyber kan sudah ada Satgasnya. Dan itu (penangkapan) kerjasama dengan kita kemarin,” kata Kapolda kepada media, Kamis (01/03/2018) pagi, di Mapolda DIY.

TAW merupakan anggota kelompok penyebar berita hoax yang menamakan diri mereka Moslem Cyber Army (MCA).

Kelompok ini menyebar konten-konten fitnah atau kebohongan yang meliputi isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), penculikan dan kekerasan terhadap ulama, pencemaran nama baik presiden, pemerintah hingga tokoh-tokoh tertentu.

Kapolda menyebutkan belum ada keterlibatan warga Yogyakarta lainnya, setelah penangkapan tersangka TAW yang merupakan ibu dua orang anak itu.

“Kalau yang lain belum, masih belum,” ujar Kapolda usai memimpin apel Operasi Keselamatan Progo 2018.

Tak hanya menyiagakan Satgas Cyber Crime, Polda DIY juga aktif melakukan cyber patrol untuk memantau, melacak dan juga mengungkap kasus-kasus penyebaran hoax atau ujaran kebencian (hate speech) di Yogyakarta.

Cyber patrol kan jalan terus. Jika ada ujaran kebencian, pencemaran nama baik dan lainnya tetap akan menjadi fokus kita,” sebut Ahmad Dofiri kepada koranbernas.id.

Dalam kasus penangkapan TAW yang merupakan dosen Bahasa Inggris sebuah PTS terkemuka, Polda DIY membantu Polda Jawa Barat dan Polres Majalengka melakukan pengungkapan kasus tersebut. Termasuk saat tersangka ditangkap pada 26 Februari lalu di sebuah rumah di bilangan Jakarta Utara.

Tersangka TAW sempat berpindah-pindah tempat seperti di Yogyakarta, Jawa Barat maupun di Jakarta. Dia dibekuk petugas karena unggahan di laman facebook tentang berita bohong tentang pembunuhan seorang muazin oleh orang gila di Desa Sindang Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka pada 16 Februari lalu.

Faktanya korban bernama Bahroen yang terbunuh adalah warga biasa, dan tewas akibat kebiadaban komplotan perampok. Ahmad Dofiri pun menegaskan, pihaknya akan mengambil tindakan tegas untuk mencegah kasus hoax dan hate speech menyebar luas di Yogyakarta.

Hal tersebut akan menimbulkan keresahan dan polemik atas fitnah yang beredar luas di masyarakat. “Karena ini masalah medsos, maka sangat membahayakan jika berita-berita hoax itu terus beredar,” ungkap Jenderal bintang satu yang berusia 50 tahun ini. (sol)