PAUD Ini Memilki Cara Khusus Lakukan Pembiasaan Siswa

215
Sejumlah anak serius mewarnai gambar dalam lomba yang berlangsung di Chip Munk, akhir Maret 2018. (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Pembiasaan sejak dini, merupakan cara terbaik untuk mengajari anak. Hal ini pulalah yang dilakukan oleh KB TK Chip Munk, di wilayah Banguntapan.

PAUD yang mulai dibangun pasca gempa 2016 ini, memiliki cara tersendiri dalam membiasakan siswa-siswanya. Baik dalam hal kemampuan Bahasa Inggris, ataupun dalam hal memupuk jiwa toleran dan saling menghargai.

Menurut Kepala Sekolah Maria Kusumayanti, S.Pd,  pembiasaan menjadi salah satu kunci dalam pembelajaran. Terlebih saat usia dini. Dengan penanaman kebiasaan-kebiasaan baik sejak usia dini, maka kebiasaan baik ini akan terus dibawa hingga usia remaja dan dewasa.

“Saya punya pengalaman, betapa pembiasaan sejak masih kecil akan membentuk kepribadian dan kebiasaan anak hingga dewasa. Kalau sejak kecil terbiasa dengan perilaku toleran, disiplin, bertutur kata dan bersikap baik, biasanya hingga dewasa tetap akan demikian,” kata Yanti, disela-sela open house dengan acara Lomba Mewarnai, di sekolah tersebut, akhir Maret 2018.

Bagaimana membiasakan kebaikan sejak kecil?. Hal ini menurut Yanti perlu kerja sama baik antara sekolah dengan keluarga. Di sekolah, peran guru sangat penting. Instruksi, ajakan, dan proses pembelajaran harus dilakukan dengan cara baik dan dengan kalimat-kalimat yang baik. Tak jarang instruksi juga disampaikan dengan Bahasa Inggris sekaligus untuk melatih kemampuan anak.

Sebaliknya, ketika di rumah, Yanti berharap orangtua dan anggota keluarga lainnya juga bisa meneruskan kebiasaan ini.

“Jadi komunikasi dan sharing antara sekolah dengan orangtua menjadi hal yang juga penting,” lanjutnya.

Selain di lingkungan sekolah, proses pembelajaran juga kerap dilakukan dengan membawa peserta didik ke luar sekolah dengan secara langsung megunjungi tempat-tempat yang diinginkan sesuai dengan tema mingguan atau bulanan.

Kepala Sekolah Maria Kusumayanti, S.Pd. (istimewa)

Hal ini dilakukan untuk membekali siswa-siswanya pengalaman nyata dari tema pelajaran yang disampaikan.

Misalnya tema mengenai profesi, anak-anak dibawa ke kantor polisi terdekat atau sebaiknya mendatangkan guru tamu dari profesi terkait. Kemudian ketika temanya mengenai teknologi, maka anak-anak diantaranya akan diajak ke Museum Dirgantara dan sebagainya.

“Dengan begitu, anak-anak akan melihat dan mengalami proses pembelajaran yang nyata atau riil. Sekalipun hanya kita ajak ke pasar atau warung untuk belajar mengenai perdagangan atau jual beli. Kadang kita ajak ke kebun agar mereka tahu proses menanam dan merawat,” kata Yanti. (*/SM)