Pedagang Rasakan Permintaan Beras Zakat Turun

101
Yohan, pemilik grosir beras “Fanda” di depan Pasar Lempuyangan Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari namun permintaan beras untuk zakat menurun dibanding tahun-tahun lalu.

Hal itu dirasakan oleh Yohan, pemilik grosir beras “Fanda” di depan Pasar Lempuyangan Yogyakarta. Dulu setiap Ramadan hampir berakhir permintaan beras zakat sangat tinggi.

“Sekarang banyak orang cenderung memberikan zakat berupa uang,” katanya menjawab pertanyaan koranbernas.id, Rabu (13/06/2018), di tokonya tentang penurunan permintaan beras jelang Idul Fitri.  Hanya saja berapa persen penurunan itu, dia tidak sempat menghitung.

Dia mengakui, persediaan beras cukup melimpah karena baru saja panen raya di wilayah Delanggu dan Sawangan sehingga harganya tidak naik. Tetapi saat ini panen hampir berakhir dan sesudah itu kemungkinan harga akan bergeser naik.

Baca Juga :  Belajar Ikhlas dari Lakon Wayang Dewa Ruci

Menurut Yohan, banyak orang menganggap karena mafia beras. Itu tidak benar. Mafia beras hanya ada di kota besar seperti Jakarta. Karena mereka tidak punya lahan sawah. Berbeda dengan di daerah yang masih punya lahan sawah cukup luas.

Harga beras memang bervariasi  tergantung di pasar mana beras beredar serta berkait dengan kualitas beras. Fanda menjual beras dengan harga sesuai kualitas.

Harga berkisar antara Rp 9.000 sampai Rp 16.000 untuk jenis rajalele utuh. Di sana tersedia rajalele remukan dengan harga hanya Rp 10.000. “Tetapi kalau dimasak rasanya tetap nasi rajalele,” kata dia.

Meski permintaan menurun namun pembeli di tokonya selalu datang dan pergi silih berganti. Baik membeli eceran maupun partai besar. (sol)

Baca Juga :  Ajak Tamu Cari Sampah Plastik