Pekerja Rumahan Belum Dihargai

136
Legiyem, pekerja rumahan anggota serikat pekerja Kasih Bunda mengelem kipas di rumahnya, Rabu (19/9/2018). (w asmani/koranbernas.id)

KORANNERNAS.ID–Di Indonesia sangat banyak pekerja rumahan seiring perkembangan Usaha Kecil Mikro dan Menengah(UMKM) hingga perusahaan multinasional. Dalam pekerjaannya, mereka seringkali menghadapi berbagai kondisi rentan seperti status hubungan kerja yang tidak pasti, upah rendah, posisi tawar lemah, kondisi kerja buruk, waktu kerja tidak jelas.

Para pekerja rumahan juga tidak memiliki perlindungan jika terjadi perselisihan. Apalagi fasilitas dan alat kerja pun minim.

“Hingga saat ini pekerja rumahan belum diakui di dalam undang-undang ketenagakerjaan. Padahal, mereka berperan penting di dalam rantai produksi berbagai komoditas dalam negeri, mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah hingga perusahaan multinasional,” ujar Widya Setyowati, Manajer Program MAMPU (kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan) dalam kampanye publik ‘Lindungi Pekerja Rumahan’ di Greenhost Boutique Hotel, Rabu (19/9/2018).

Baca Juga :  PSI Lolos Ikut Pemilu di Purworejo

Karenanya Mampu bekerja sama dengan empat mitra seperti Bina Ketrampilan (Bitra), Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia (MWPRI), Trade Union Rights Center (TURC) dan Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) melakukan pendampingan bagi perempuan pekerja rumahan. Hal itu dilakukan agar mereka menyadari dan memperjuangkan hak-haknya sebagai pekerja.

“Seperti jaminan, kondisi kerja yang layak dan perlindungan sosial. Bersama pemerintah daerah dan pusat, MAMPU dan para mitra juga mendorong adanya kebijakan untuk perlindugan pekerja rumahan, mulai dari tingkat desa hingga nasional,” jelasnya.

Martini, pendamping pekerja rumahan dari Yasanti menjelaskan, untuk memberdayakan pekerja rumahan, pihaknya membentuk serikat pekerja rumahan di sejumlah kabupaten di DIY. Di Bantul ada lima serikat dan satu federasi pekerja rumahan, sedangkan untuk Kota Yogyakarta ada lima serikat pekerja rumahan.

Baca Juga :  Waspadai Bahaya Kanker Serviks

“Kami mengajak pekerja rumahan sekolah dua bulanan, materi yang kami ajarkan adalah advokasi, komunikasi dan gender,” katanya.

Legiyem salah satu pekerja rumahan yang bekerja menempel lem pada bambu yang sudah berbentuk kipas mengaku mendapatkan pengetahuan dari serikat. Dirinya sudah mempraktikkan pemahaman kesetaraan gender di rumah tangganya.

“Sehingga seluruh keluarga saya mau berbagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada di rumah tangga dan waktu kerja saya tidak terganggu,” paparnya.

Legiyem menjelaskan, sebagai pekerja rumahan, dia mendapatkan upah yang bisa dimanfatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk setiap 100 kipas, dia mendapat upah Rp. 15.000.

“Setiap hari rata-rata saya menyelesaikan 200 kipas, jadi per hari rata penghasilan saya Rp. 30.000 sehari, waktu berkerja dari jam 08.00 hingga sore hari,” imbuhnya.(yve)