Pekik “Merdeka” dari Laut di Pantai Baron  

202
Para peserta mengikuti rangkaian upacara bendera di tengah laut Pantai Baron. (St Aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Ratusan wisatawan dan anggota tim SAR menggelar upacara bendera peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Samudera Hindia, sekitar Pantai Baron, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (17/08/2017). Meski gelombang cukup tinggi namun sebagian besar peserta mampu berenang sejauh 500 meter mengibarkan bendera.

Dalam upacara ini, setelah mendengarkan detik-detik proklamasi sekitar pukul 10.10 WIB, ribuan peserta mengikuti pengibaran bendera. Sebanyak tiga orang peserta membawa bendera merah putih. Sementara ratusan lainnya mengikuti dari belakang. Menggunakan pelampung, ratusan peserta lantas menerjang gelombang.

Ketinggian gelombang yang mencapai 11 feet, tampak peserta upacara terombang ambing. Sebagian kecil terbawa gelombang ke pinggir, dan harus kembali berenang. Sementara 3 orang dari petugas SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul bisa menembus ganasnya ombak. Saat pengibaran, para peserta di tengah laut, menyanyikan lagu Indonesia Raya, setelah selesai mereka meneriakkan “Merdeka”.

Untuk mengantisipasi hal tidak diinginkan belasan perahu dan jetsky disiapkan di sekitar lokasi pengibaran bendera.

Baca Juga :  Polwan Blusukan ke Pasar Tradisional

Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul, Marjono mengatakan, upacara diikuti sekitar 3.000 orang yang berasal dari masyarakat sekitar Baron, SAR Bantul dan Gunungkidul, hingga komunitas.

“Total ada 3.000 peserta. Antusias peserta luar biasa. Kegiatan uoacara di laut ini dilaksanakan yang kelima kalinya,” katanya ditemui seusai upacara.

Makna pengibaran dilakukan di tengah laut karena ingin mengajak para wisatawan dan masyarakat untuk menghargai jasa pahlawan yang rela gugur dalam merebut kemerdekaan.

“Pahlawan yang telah gugur perjuangannya luar biasa. Apa yang kami lakukan inii belum ada apa-apanya dibanding saat perjuangan dahulu. Sebab, banyak relawan yang tak mampu menerobos ombak karena tidak mengetahui karakter ombak, yang sudah mengetahui bisa sampai ke lokasi,” bebernya.

Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dwi Warna Widi Nugraha yang juga sebagai inspektur, mengatakan, upacara dengan latar belakang laut agar masyarakat sadar untuk mencintai laut.

Baca Juga :  Ada Pedagang yang Mulai Nakal

“Sebagai negara maritim kita harus mencintai laut,” ucapnya.

Salah seorang Peserta asal Gunungkidul Beti Rahmawati mengaku baru pertama kali mengikuti upacara di tengah laut, dan harus berenang. Ganasnya gelombang membuat dirinya gagal sampai ke sekitar lokasi pengibaran bendera.

“Saya baru pertama kali ikut upacara di sini. Bangga sekali meski tidak sampai ke lokasi pengibaran. gelombangnya sulit ditembus,” katanya

Dia mengatakan dengan mengikuti upacara di tengah laut ini diharapkan laut bisa lebih dijaga.

“Laut merupakan halaman, sehingga harus dijaga. Jangan sampai buang sampah sembarangan,”ucapnya.

Peserta lainnya, Rika Krunia, mahasiswi asal Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengaku sampai ke lokasi, meski perjuangan dilakukan cukup berat. Menggunakan pakaian selam dan snorkel, dirinya mampu menembus gelombang. (St.Aryono/SM)