Pelajar Harus Jadi Duta Antihoax

226
Pelajar ikut sosialisasi GNRM melalui Media Sosia di Hotel Grand Mercure, Rabu (09/08/2017).

KORANBERNAS.ID — Pelajar bisa menjadi duta antihoax berbagai situs atau konten negatif sosial media (sosmed). Apalagi mereka sebagai generasi Z dengan usia mulai 16 tahun hingga 35 tahun rata-rata sangat mengenal internet.

“Konten negatif di media sosial atau medsos perlu ditangkal. Tidak hanya pemerintah yang bertanggungjawab namun juga masyarakat, termasuk para pelajar,” ungkap Kepala Bidang Prestasi Olahraga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Achmad Gunawa disela Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) melalui Media Sosial (Medsos) di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Rabu (09/08/2017).

Karena itulah GNRM terus disosialisasikan di kalangan pelajar. Para pelajar diharapkan dapat menyebarkan nilai-nilai yang baik terkait dengan pola pikir, pola kerja dan pola hidup.

Baca Juga :  UP 45 Perkuat Kerja Sama Internasional

“Pengetahuan akan medsos yang sehat diharapkan mampu menangkal hoak,” tandasnya.

Untuk bisa mensukseskan sosialisasi di kalangan pelajar, dibutuhkan komitmen dari semua pihak, termasuk institusi pendidikan. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY serta relawan TIK dalam sosialiasi tersebut.

“Pelajar jogja rata-rata kritis bahkan memiliki komitmen bersedia ikut melawan konten negatif,” tandasnya.

Achmad Gunawan menambahkan, sosialisasi GNRM melalui Medsos ini sudah berlangsung sejak Juni silam hingga September mendatang di 34 provinsi di Indonesia. Masing-masing provinsi memilik 50 peserta melalui selesi dari dinas pendidikan.

Baca Juga :  Penting, Mahasiswa Belajar Kepemimpinan

“Dipilih pelajar tingkat sma karena mereka memiliki kematangan bersentuhan dengan medsos disbanding pelajar tingkat smp. Selain itu, diundang pula perwakilan guru. Adapun materi disampaikan oleh kementerian maupun relawan tik,” tandasnya.

Sementara Mirza Safaras, peserta asal SMAN 1 Jogja mengakui, sosialisasi itu penting untuk memberikan pemahaman dan kesadaran para para pelajar untuk berinternet secara sehat. Apalagi saat ini generasi muda sangat lekal dengan gadget.

“Pelajar memang perlu diberikan pemahaman akan internet yang sehat karena banyak yang menggunakan gadget sembarangan,” ungkapnya.(tugeg sundjojo/yve)