Pelajar SMP Dikeroyok Temannya Hingga Gegar Otak

167
Siswa kelas VII SMPN 2 Sanden, Fajar Wisnu Nugroho dirawat di RS PKU Muhammadiyah, Senin (26/02/2017). Fajar menderita gegar otak  karena dikeroyok teman-temannya. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Dunia pendidikan kembali tercoreng menyusul terjadinya tragedi kekerasan di SMPN 2 Sanden Bantul. Seorang siswa pelajar VII, Fajar wisnu Nugroho (15) hingga Senin (26/02/2018) masih menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah karena menderita gegar otak.

Diduga Fajar dikeroyok oleh teman-teman sekolahnya, Rabu (21/02/2018) pekan lalu. Kasus ini ditangani oleh Polsek Sanden setelah keluarga korban melapor, Jumat (23/02/2018).

Iskandar, ayah Fajar, mengatakan saat pulang sekolah anaknya mengeluh pusing dan tangannya sakit. “Dari luar tidak tampak luka ataupun berdarah, namun menurut dokter yang merawat, Fajar menderita gegar otak,” kata Iskandar kepada wartawan di kediamannya Dusun Selo Desa Sidomulyo Bambanglipuro, Senin (26/02/2018).

Menurut Iskandar, berdasarkan penuturan anaknya, kejadian tragis tersebut dipicu senggolan antara Fajar dengan temannya sesama kelas VII. Tidak terima, temannya itu kemudian mengeroyok setelah mengajak teman lainnya sekitar 5 orang.

Baca Juga :  PT KAI Menambah Petugas Pemeriksa Rel

“Kata anak saya sekitar 5 orang. Dia dikeroyok saat istirahat pertama dan diancam tidak boeh bercerita kepada siapa pun. Kemudian dihajar lagi pas istirahat kedua,” katanya.

Saat  pulang itulah sampai rumah anaknya mengaku pusing dan oleh keluarganya dibawa ke rumah sakit.

Kepala SMPN 2 Sanden, Mujiyana, menyatakan benar adanya peristiwa tersebut. “Siswa yang  mengeroyok berikut orang tuanya sudah kita panggil ke sekolah. Pelaku yang diduga mengeroyok berjumlah lima orang dan sudah mengaku, tetapi mungkin lebih, ya. Anak-anak tersebut dijemput (polisi-red)  jam 10:00 dan kini di Polsek,” katanya.

Sempat ada satu terduga pelaku tidak hadir ke sekolah saat dipanggil, kemudian petugas menjemput ke rumahnya. Mujiyana memilih menyerahkan kasus itu ke aparat kepolisian. “Sanksi dari sekolah nanti menunggu mediasi korban dengan pelaku,” katanya.

Baca Juga :  Naik Turun Tangga Pasar, Sepikul Air Dihargai Rp 4 Ribu

Kanit Reskrim Polsek Sanden, Aiptu Purwanto, secara terpisah mengatakan sementara para terduga pelaku masih diizinkan ke sekolah.

“Jangan sampai peristiwa tersebut menghambat mereka menempuh pendidikan,” ujarnya. Pasal yang dikenakan, menurut Purwanto, akan dilihat arahnya diversi atau bagaimana. (sol)