Pelajar Wajib Tanda Tangani Deklarasi Tak Menikah Dini

182

KORANBERNAS.ID – Diawali dari wilayah Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul, upaya pencegahan pernikahan dini di kalangan remaja terus digencarkan. Tujuannya agar mereka tidak melahirkan anak-anak pada usia yang rawan bagi kesehatan reproduksi. Selain itu, juga untuk mencegah banyaknya anak-anak kehilangan masa depan.

Genderang perang, dalam tanda kutip, yang ditabuh oleh Camat Saptosari Djarot Hadiatmodjo dengan dukungan Muspika setempat, KUA dan masyarakat ini ternyata efektif dan menyebar ke wilayah lain.

“Seluruh siswa baru tingkat SMP tahun ajaran 2017 wajib menandatangani Deklarasi untuk tidak melakukan pernikahan dini,” kata Drs Wijang Eka Aswarna MSi, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPM dan D) Kabupaten Gunungkidul dalam perbincangan dengan koranbernas.id di Yogyakarta baru-baru ini.

Deklarasi ini juga diperkuat oleh para orangtua siswa. Dalam upaya mencegah remaja menikah pada usia sangat muda, muspika dan KUA sepakat menolak menandatangani izin menikah. Kantor KUA juga dilarang memberikan dispensasi menikah pada anak di bawah umur,  sesuai UU Perkawinan.

Baca Juga :  Jamaah Ar Rahmah Jogja Sudah di Mekkah

Bahkan ada yang lebih berat lagi yakni sanksi sosial. Apabila ada yang nekat, maka tak ada seorang pun bersedia menjadi saksi nikah ataupun hadir pada acara tersebut.

Terobosan berani itu muncul dari rasa keprihatinan camat yang melihat banyak wanita sangat muda menjadi janda, karena mereka belum siap menikah baik lahir maupun batin. Akhirnya anak yang dilahirkan menjadi beban orangtuanya, dan si anak mencari masa remajanya yang hilang.

Kebijakan itu membawa hasil nyata dan kasus pernikahan dini bisa ditekan seminim mungkin. Memang ada yang mencoba mengelabuhi dengan alasan hamil. Ternyata setelah dilakukan tes kehamilan, hasilnya bohong.

Keberhasilan yang membawa Djarot menerima penghargaan tingkat nasional pada Hari Keluarga di Kupang NTT tahun lalu itu, menurut Wijang, juga ditiru oleh kecamatan lain. Di antaranya Kecamatan Gedangsari, meski pendekatannya beda, tetapi hasilnya hampir sama. Di tingkat kecamatan, Gedangsari juga berhasil menekan angka pernikahan dini. “Bahkan sampai nol,” kata Wijang.

Baca Juga :  Ambil Hikmah dari Lakon Wahyu Cakraningrat

Upaya serupa terus disosialisasikan agar ditiru oleh kecamatan-kecamatan yang lain. Ini penting selain untuk mencegah angka kelahiran dengan rentang masa  subur panjang,  juga untuk menurunkan angka kemiskinan. Beban anak-anak hasil pernikahan usia dini, akan menjadi beban berat bagi orangtuanya. Apalagi Saptosari di gugusan perbukitan pinggir pantai selatan itu termasuk daerah miskin.

Seperti diketahui, BKKBN memberikan perhatian besar penanganan remaja dengan berbagai masalahnya lewat berbagai program.  Karena secara nasional, penduduk usia remaja angkanya sangat besar. (arie giyarto)