Pembahasan Raperda Hari Jadi Kebumen Belum Mengerucut Satu Tanggal

232
Alun-alun Kebumen dan Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen pusat  pemerintahan   Kabupaten  Kebumen. (Nanang WH/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Pembahasan  Rancangan Peraturan Daerah (Raperda)  Hari Jadi Kabupaten Kebumen belum mengerucut ke tanggal, bulan dan tahun yang diusulkan eksekutif. Masih ada 3 opsi yang bisa dijadikan dasar Hari Jadi Kabupaten Kebumen. Ketiga opsi itu, berdasarkan sejarah lokal dan dokumen sejarah Kolonial  Hindia  Belanda.

Hal itu terungkap saat dengar pendapat Raperda Hari Jadi Kabupaten Kebumen, yang diselenggarakan Pansus I DPRD Kabupaten Kebumen, Kamis (26/04/2018).  Dengar pendapat yang dipimpin Ketua  Pansus  I Miftaful Ullum, untuk memberi  kesempatan narasumber menyampaikan hasil penelitian atau risetnya dan mendapatkan masukan dari tokoh masyarakat.

Dalam Raperda Hari Jadi Kabupaten Kebumen yang disampaikan eksekutif  disebutkan, Hari Jadi Kebumen 21 Agustus 1629. Penentuan berdasarkan informasi sejarah lokal yang menyebutkan Ki Bodronolo, asal Paner Kebumen membantu logistik pasukan Mataram ketika  menyerang pemerintah Hindia Belanda  di Batavia.  Peran Ki Bodronolo ini, yang dinilai mengandung nilai historis dan heroic.

Baca Juga :  Penambangan Pasir Liar di Sungai Luk Ulo Alih Pekerjaan Pernah Dilakukan, Tapi Gagal

Aprianus Salam, dari Pusat Kajian   Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Teguh Purwanto dan Agung Kriswanto, keduanya  dari Perpustakaan Nasional mengatakan, ada 3 sumber sejarah yang bisa menjadi  opsi untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten  Kebumen.

Sejarah Ki Bodronolo, salah satu sumber sejarahnya dari Babad Tanah Jawi.

Opsi lain peran Ki Bumidirjo. Hal ini diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai cikal bakal penamaan Kebumen. Ki Bumidirjo, disebut sebagai adik Sultan Agung Hanyakrakusumo yang pergi dari Mataram dan menetap di Kebumen pada tahun 1859. Kepergiannya karena bertentangan dengan keponakan Sunan Amungkurat I. Peristiwa  Ki Bumidirjo, tercatat dalam Babad  Sengkala.

Opsi ketiga, adalah terkait keberadaan  peran Arungbinang IV, Bupati Kebumen I, yang berhubungan dengan Kebumen. Ini tercatat dalam sumber sejarah lokal dan  sumber sejarah kolonial.

Ada usulan penggantian nama untuk Kabupaten  Brengkelan menjadi  Purworejo, Semawung menjadi Kutoarjo, Ungaran  menjadi  Kebumen dan Karangduhur menjadi Sedayu. Usulan itu terjadi 20 April 1830.

Baca Juga :  Ada 214.000 Jiwa Menghuni Daerah Rawan Bencana

 

Pusat Kajian Kebudayaan UGM dan  Perpustakaan Nasional, menyatakan tidak untuk menetapkan salah satu dari ketiga opsi itu sebagai Hari Jadi Kabupaten Kebumen. Kedua lembaga itu menyerahkan kepada DPRD Kebumen  untuk menetapkan  Hari Jadi Kabupaten Kebumen berdasarkan bukti sejarah.

Jarot Widodo, warga Karangsambung , Susilo, Camat Sadang, serta Bambang Nurcahyo, sependapat Hari Jadi Kebumen  21 Agustus 1629.

Bambang  Priyambodo, Camat Ayah, warga Gombong, secara tersirat tidak yakin Hari Jadi Kebumen pada 21 Agustus 1629.

Sedangkan  Mahur Adam Maulana, warga Mirit, yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Kebumen malahan meminta kepada Pansus DPRD Kebumen untuk voting dalam  menentukan Hari Jadi Kabupaten Kebumen.

Pansus I, menurut Miftaful Ulum, tidak dalam kedudukan untuk sepakat atau tidak sepakat dengan Hari Jadi Kebumen yang diusulkan Pemkab Kebumen. Karena itu   dengar pendapat digelar. (SM)