Pembelajaran Batu Akik Model Klawing

*Membudayakan Literasi Anak dengan Model Pembelajaran yang Efektif

245

Oleh: Dr. Sigit Mangun Wardoyo, S. Pd., M. Pd.*)

GERAKAN Literasi Sekolah atau disingkat GLS merupakan program pemerintah yang dicanangkan untuk membudayakan literasi peserta didik. Salah satu budaya literasi yang ingin ditingkatkan adalah budaya membaca dan menulis. Pemerintah tampaknya prihatin dengan kondisi yang menunjukkan, bahwa budaya literasi baca tulis peserta didik, menempati posisi yang rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Kondisi ini juga menjadi keprihatinan para pendidik, terkait kegagagalan mereka dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas yang belum mampu membangkitkan budaya baca tulis bagi peserta didik.

Tentunya, kondisi seperti ini haruslah mendapatkan perhatian khusus, agar ditemukan solusi bagaimana agar proses pembelajaran di kelas menjadi lebih efektif dan mampu membangkitkan budaya literasi baca tulis bagi peserta didik.

Pembelajaran efektif merupakan pembelajaran yang mengoptimalkan waktu yang ada untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Namun tentunya dalam proses pembelajaran yang berlangsung keterlibatan siswa tidak dapat diabaikan. Aktivitas, kreativitas, inovasi, dan semangat kooperatif siswa harus mampu diwujudkan.

Berdasarkan teori pembelajaran yang ada terkait dengan tuntutan pembelajaran pada masa sekarang ini, tentunya budaya literasi baca tulis peserta didik sangat dapat diwujudkan. Namun dalam mewujudkan kondisi tersebut, yang menjadi penekanan adalah bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dalam membangun budaya baca tulis harus mampu secara efektif membangkitkan aktivitas, kreativitas, inovasi dan kooperatif peserta didik.

Oleh karena itu, pembelajaran harus Aktif, Kreatif, Inovatif dan Kooperatif.

Pembelajaran Aktif

Proses pembelajaran menuntut guru agar mampu membangkitkan aktivitas peserta didik secara optimal. Guru diharapkan melibatkan siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar, jangan sampai guru mendominasi proses belajar. Proses belajar yang menunjukkan siswa aktif, adalah munculnya aktivitas peserta didik di dalam interaksi proses pembelajaran yang berlangsung.

Pembelajaran aktif juga ditandai dengan munculnya kemandirian siswa dalam menghadapi permasalahan yang ada. Munculnya aktivitas peserta didik secara optimal tidak dapat dilepaskan dari peranan seorang guru. Oleh karena itu guru terlibat secara aktif, baik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran.

Pembelajaran Kreatif

Kreativitas menjadi tuntutan dalam perkembangan zaman yang terus mengalami perubahan. Oleh karena itu, dalam menyiapkan peserta didik agar mampu mengikuti perkembangan zaman tersebut, tentunya tuntutan menanamkan dan menumbuhkembangkan kreativitas bagi peserta didik menjadi hal yang sangat penting.

Hal yang dilakukan dalam proses pembelajaran adalah, bagamana pendidik mampu secara kreatif membangkitkan kreativitas peserta didik terkait materi yang akan diajarkannya.
Pendidik harus mampu memberikan stimulus yang tepat secara kreatif agar peserta didik memberikan respons dengan membangkitkan kreativitas yang dimiliki mereka. Proses pembelajaran harus memfasilitasi kepada peserta didik untuk menunjukkan kreativitas mereka di dalam setiap proses pembelajaran.

Pembelajaran Inovatif
Tuntutan terciptanya pembelajaran yang inovatif tentu bukan sekadar wacana, namun keadaan tersebut harus dapat direaliasasikan di dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif dalam proses pembelajaran merupakan kondisi, di mana proses pembelajaran yang berlangsung baik peserta didik maupun pendidik mampu menemukan hal baru dari kegiatan tersebut.

Implementasi hal-hal baru yang ditemukan oleh peserta didik dan pendidik menjadi faktor penting dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna. Selain itu, inovatif dalam pembelajaran juga merujuk pada penggunaan berbagai bahan atau sumber belajar dan alat belajar secara optimal dan variatif.

Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran harus mampu menumbuhkembangkan sikap sosial dalam diri peserta didik secara baik. Hal ini dikarenakan agar peserta didik nantinya menjadi manusia inividu sekaligus manusia sosial yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Mewujudkan kondisi tersebut tentunya peserta didik harus dibiasakan berinteraksi secara baik dengam lingkungan yang ada dan lingkungan yang beragam. Oleh karena itu, pembelajaran yang ada harus mengupayakan adanya proses pembelajaran kooperatif dengan melibatkan siswa dalam kelompok-kelompok yang heterogen. Harapannya dari kegiatan kooperatif itu, peserta didik mampu untuk saling berinteraksi, berbagi, dan saling membantu dalam menghadapi permasalahan yang ada.

Baca Juga :  Sistem Baru Penerimaan Siswa SMA dan SMK

Seorang pendidik harus mampu menciptakan pembelajaran kooperatif dengan baik. Oleh karena itu, interaksi multiarah harus dapat diwujudkan di dalam setiap proses pembelajaran. Membangkitkan stimulus-respon menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran kooperatif, agar proses pembelajaran dapat berjalan secara baik.
Adanya stimulus dan respon positif yang tercipta tentunya akan membangkitkan hubungan sosial maupun sikap sosial dalam diri peserta didik secara baik. Sikap sosial yang mampu diwujudkan antara lain adalah: Pembelajaran Model Klawing dan Pendekatan Konstruktivisme.

Pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontruktivisme menuntut agar seorang pendidik mampu menciptakan pembelajaran sedemikian rupa, sehingga peserta didik dapat terlibat secara aktif dengan materi pelajaran, melalui interaksi sosial yang terjalin di dalam kelas. Aktivitas siswa dalam pembelajaran kontruktivisme dapat dilakukan dengan kegiatan mengamati fenomena-fenomena, mengumpulkan data-data, merumuskan dan menguji hipotesis-hipotesis, dan berkerja sama dengan orang lain (Schunk, 2012:324).
Pandangan konstruktivisme menurut Kukla (2000:3) “all our concepts are Constructed”.

Hal tersebut dapat diartikan bahwa semua konsep yang didapat oleh setiap organisme merupakan suatu hasil dari proses konstruksi. Kukla beranggapan, konsep yang dibangun behubungan dengan suatu realitas. Lebih lanjut Kukla menganggap bahwa realitas merupakan hasil dari konstruksi setiap organisme.

Menurut Kukla, pada dasarnya setiap individu membentuk realitas dalam perspektif mereka masing-masing. Oleh karena itu realitas yang terbangun merupakan hasil interpretasi dari masing-masing organisme.

Menurut Bidell dan Fischer (2005: 10) “Constructivism characterizes the acquisition of knowledge as a product of the individual’s creative self-organizing activity in particular environments”. Artinya bahwa konstruktivisme memiliki karakteristik adanya perolehan pengetahuan sebagai produk dari kegiatan organisasi sendiri oleh individu dalam lingkungan tertentu.

Konstruktivisme menurut Bruning merupakan perspektif psikologis dan filosofis yang memandang, bahwa masing-masing individu membentuk atau membangun sebagian besar dari apa yang mereka pelajari dan pahami (Schunk. 2012:320).

Menurut Brooks dan Brooks (2006: 35) “the constructivist approach stimulates learning only around concepts in which the students have a prekindled interest”. Pernyataan tersebut bisa dimaknai bahwa konstruktivis adalah suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang mengarahkan pada penemuan konsep yang laihir dari pandangan, dan gambaran serta inisiatif peserta didik.

Teori Belajar Kooperatif

Menurut Slavin (2008: 4) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran di mana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya, dalam mempelajari materi pembelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan beragumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.

Teori Sosial Albert Bandura

Metode Pembelajaran Langsung mendasarkan pandangan belajarnya pada teori sosial yang diusung oleh Albert Bandura. Bandura (1989: 12) menyatakan bahwa dalam pandangan teori kognitif sosial, faktor sosial memegang peranan penting dalam membangun perkembangan kognitif. Gredler (2011: 423) menyatakan bahwa teori sosial ini menekankan pada mekanisme primer bahwa seseorang belajar perilaku kognitif dan afektif melalui pengamatan atas perilaku orang lain.

Proses belajar, dengan mengamati (belajar observasional) ini tidak dilakukan hanya sekadar meniru yang dinyatakan dengan pemodelan (Bussey dan Bandura, 1986:691). Pemodelan merupakan sarana yang baik untuk mentransferkan nilai, sikap dan pola pemikiran.

Menurut Bandura (1969: 220-225 ) menyatakan bahwa proses belajar seseorang dari seorang model terdiri dari empat fase, yakni perhatian, retensi, reproduksi dan motivasi. Fase perhatian adalah fase memperhatikan seorang model untuk mendapatkan informasi.
Fase retensi adalah fase menyimpan, mengingat dan mempertahankan informasi yang telah didapatkan dari model. Fase reproduksi adalah fase memproduksi kembali apa yang sudah diperhatikan dan diingat. Fase motivasi adalah fase menciptakan harapan terhadap hasil akhir belajar sebagai akibat dari penerimaan informasi dari model.

Schunk (2012: 166) menyatakan ada dua implikasi dari pembelajaran sosial ini, yakni pembelajaran melalui praktik (enactive learning) dan pembelajaran melalui pengamatan (vicarious learning).

Hal ini didasarkan pada definisi belajar dalam pembelajaran sosial, yakni sebagai aktivitas pengolahan informasi, di mana stuktur perilaku dan peristiwa di lingkungan ditransformasikan menjadi representasi simbolis, yang berperan sebagai tuntunan bagi tindakan-tindakan (Bandura, 1986: 51). Oleh karena itu, struktur perilaku dan peristiwa menjadi sumber bagi proses pembelajaran yang direpresentasikan dalam sebuah tindakan-tindakan.

Baca Juga :  Amputasi KPK

Proses pembelajaran menuntut arahan dan bimbingan dari pendidik, agar pembelajar dapat meresponsnya secara maksimal sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Hal ini dinyatakan Rosenthal dan Bandura (dalam Schunk, 2012:169) sebagai pemodelan yang dinyatakan sebagai perubahan perilaku, kognitif, dan afektif yang diperoleh dari mengamati satu atau lebih model atau contoh.

Pemodelan ini lebih lanjut berlaku bukan hanya pada peniruan sederhana dari orang lain akan tetapi juga pada proses yang menyeluruh di mana seseorang berusaha untuk menjadi jenis yang sama dengan orang lain Hill (2010: 196). Oleh karena itu, model atau sumber belajar memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran seseorang.

Sintaks Pembelajaran Batu Akik Model Klawing

Batu AKIK model KLAWING merupakan akronim kata (Baca Tulis Aktif Kreatif Inovatif dan Kooperatif). Adapun model KLAWING merupakan akronim dari tahapan suatu model pembelajaran yaitu 1) Kelompok, 2) Latihan, 3) Amati, 4) Waktu, 5) Instruksi, 6) Nilai, dan 7) Games.

Kelompok

Pembentukan kelompok kecil dalam proses pembelajaran secara heterogen. Mengunakan berbagai teknik pembentukan kelompok yang menyenangkan dan kreatif.

Latihan

Melakukan kegiatan latihan terkait materi yang diajarkan atau diberikan sesuai kompetensi dasar yang akan dikuasai oleh peserta didik. Proses latihan ini dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan, kreatif dengan pengoptimalan media pembelajaran yang inovatif.

Amati

Guru melakukan pengamatan terhadap kemampuan yang dipelajari peserta didik pada masing masing anggota kelompok secara bergantian.

Waktu

Guru memberikan batasan waktu kepada peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan pada masing masing anggota kelompok. Adanya batasan waktu yang diberikan oleh guru diharapkan peserta didik mampu secara efektif menguasai komptensi yang diajarkan dalam proses pembelajaran.

Instruksi
Guru meberikan intruksi kepada peserta didik, agar secara bersama-sama untuk melakukan kegiatan yang diinginkan oleh guru untuk memberikan penguatan dan evaluasi terhadap kompetensi yang akan diukur dengan cepat dan tepat.

Nilai
Masing masing kemampuan siswa dalam proses pembelajaran dinilai dalam kelompok masing masing. Dari proses penilaian ini nantinya akan ditentukan peserta didik dengan kriteria yang ditentukan sesuai dengan ukuran kemampuan masing masing.

Games

Guru melakukan games permainan dengan melibatkan masing-masing peserta didik sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Games atau permainan ini dilakukan secara aktif, kreatif, inovatif dan kooperatif yang lebih menantang dalam suatu Pembelajaran.
Tujuh langkah (sintaks) pembelajaran model KLAWING ini menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan prinsip dasar dalam pelaksanaan pembalajaran. Pembelajaran model KLAWING dikembangkan dari berbagai model yang telah ada sebelumnya dengan penyempurnaan yang dilakukan secara ilmiah.

Model KLAWING dilaksanakan dengan memadukan pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Inovatif dan Kooperatif agar mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna untuk setiap mata pelajaran yang ada.

Apabila pembelajaran batu Akik model Klawing ini dapat diterapkan dalam semua mata pelajaran, tentunya akan menambah khasanah model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh pendidik.

Semoga budaya literasi baca tulis dapat diwujudkan dan pembelajaran menjadi lebih efektif di dalam prosesnya. Oleh karena itu, bagi pendidik yang ingin mencoba menerapkan model ini dapat melaksanakan sesuai sintaks pembelajaran atau langkah-langkah pembelajaran yang ada.

Selamat untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif untuk mewujudakan budaya Literasi Baca Tulis yang Aktif, Kreatif, Inovatif, dan Kooperatif (Batu Akik) melalui model Pembelajaran KLAWING. ***

*)Penulis adalah guru SMA Negeri 1 Purbalingga, dan juga dosen tamu Fakultas Ilmu Budaya Unsoed Purwokerto)