Pembeli Harus Rela Antre

4010
Sate Pak Pawiro di Pasar Gading Yogyakarta. Salah satu pilihan buka puasa. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Anda penggemar sate ayam dengan bahan daging ayam kampung? Bisa dicoba sate ayam Pak Pawiro. Tempatnya di Pasar Gading Yogyakarta, hanya beberapa langkah dari bangunan cagar budaya Plengkung Gading.

Meski lapaknya amat sangat sederhana, tetapi pembelinya kadang-kadang harus rela antre. Mereka menunggu dengan sabar sate dibakar dengan arang.

Selain itu, juga dikipas dengan kipas tradisional, bukan kipas angin sehingga daging matang sampai bagian dalamnya.

“Saya selalu memilih ayamnya yang berkualitas. Meski badannya besar tetapi masih muda. Sehat. Tidak sakit,” kata Larjo, menantu Pak Pawiro yang kini melanjutkan usaha ini.

Sejak dulu almarhum bapak mertuanya memang kikrik menerima setoran ayam. Kalau ternyata ada yang gering, istilah sakit untuk ayam, segera dikembalikan ditukar yang sehat.

Baca Juga :  Merti Dusun Semampir Rekatkan Kerukunan

Menurut Larjo, dia menggunakan ayam Jawa asli. Tidak pernah menggunakan ayam merah, istilah ayam petelur afkiran. Meski sekilas seperti ayam kampung, tetapi rasanya sangat beda.

Seekor ayam kampung besar tetapi muda harganya berkisar Rp 140.000. Sehari dia bersama saudaranya mengolah 5 sampai 6 ekor ayam. Itu sudah jadi sate ratusan sunduk.

Warung sate buka usai Ashar dan kadang-kadang setelah Maghrib sudah habis. Meski Pak Pawiro sudah lama meninggal, namun pelanggan masih mengenalnya dengan nama sate ayam Pak Pawiro.

Kaldu

“Memang sebenarnya tidak ada yang berubah, terutama dalam hal cita rasa. Bumbunya yang enak dengan memanfaatkan kaldu tulang ayam tetap kami lestarikan. Wong yang mengolah ya tetap mbakyu saya, Mbak Siti,” kata Larjo di kiosnya, Sabtu (19/05/2018) jelang buka puasa.

Baca Juga :  Anggota DPD RI Yakin NYIA akan Bangkitkan Perekonomian DIY

Sejumlah pelanggan menunggu saat azan Maghrib untuk bisa buka puasa di sana. Banyak juga yang membeli untuk dibawa pulang.

Larjo menyadari, dia harus menjaga kualitas seperti Pak Pawiro dulu. Kepercayaan yang telah diperoleh harus tetap dijaga. Apalagi saat ini banyak pesaing bermunculan.

Belum lagi sate ayam potong bertebaran di mana-mana yang harganya jauh lebih murah. Namun terbukti dengan harga Rp 27.000 satu porsi sate ayam 10 tusuk dan sebuah lontong, pembeli tetap setia membelinya.

Kata orang ana rega ana rasa. Lontong pun dibuat harus menggunakan daun pisang kluthuk. Bau lontongnya khas, warnanya kehijauan. (sol)