Pemda Perlu Serius Terapkan Konsep Green Building

203
Ahmad Saifudin Mutaqi, berbincang akrab dengan Jose Carlos, Rini Anggraeni dan Kriswido Prasetya, disela-sela sharing session green building. (Surya Mega/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Pemerintah sudah saatnya aktif mendorong konsep bangunan ramah lingkungan atau bangunan hijau atau green building. Pengembangan green building penting dilakukan, untuk menjaga lingkungan yang lebih lestari untuk generasi penerus.

Ketua Ikatan  Arsitek Indonesia (IAI) Chapter Jogja, Ahmad Saifudin Mutaqi mengatakan, konsep green building, sudah diatur oleh pemerintah melalui Permen PUPR No 2 Tahun 2015. IAI berharap, konsep green building ini dapat segera ditindaklanjuti di seluruh daerah, dengan terbitnya peraturan daerah.

“Kita mendorong pemda, untuk menindaklanjuti peraturan menteri ini. Peraturan di daerah harus mengacu pada peraturan menteri soal bangunan hijau,” kata Ahmad, disela-sela sharing session green building, di Jogja, Jumat (02/02/2018). Hadir dalam acara tersebut, kalangan arsitek, Technical Sales Development Manager Saint-Gobain Gypsum Soueth East Asia, Jose Carlon, serta perwakilan Saint-Gobain Gyproc Indonesia Kriswido Prasetya dan Rini Anggraeni.

Dikatakan Ahmad, sejauh ini belum banyak pemda yang menerapkan konsep green building. Sepengetahuannya, di seluruh Indonesia, baru Jakarta, Bandung dan Surabaya, yang secara serius menerakan konsep ini.

“Jogja belum. Baru mulai ke arah sana. Ini mestinya didorong lebih kencang. Sebab kelestarian bumi ini perlu keterlibatan semua. Perlu kepedulian semua pihak,” tandasnya.

Ahmad menilai, pemerintah tidak hanya berperan penting dalam pembuatan regulasi. Peran pemerintah sebagai driven juga diperlukan, agar semangat green building ini lebih cepat terealisasi.

“Ya dimulai dari bangunan-bangunan pemerintah lah. Sudah seharusnya pemerintah menerapkan konsep ini untuk bangunan pemerintah. Kalau di sekitar Jogja, baru Gedung BI Solo yang sudah menerapkan,” imbuhnya.

Bagi Ahmad, penerapan konsep green bulding ini bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi kebutuhan. Karena konsep ini, akan jauh menekan penggunaan energi yang otomatis juga lebih ramah lingkungan. Perlu diketahui, penggunaan energi paling besar adalah energi listrik. Dan pemakaian listrik paling besar, adalah di sektor properti, yakni pemakaian air conditioning (AC), lampu penerangan dan sebagainya.

“Jadi konsep green bulding, bukan melulu persoalan penggunaan bahan, tapi juga konsep arsitektur. Itu harus satu kesatuan,” pungkasnya.

Rini Anggraeni menambahkan, penggunaan bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan sudah menjadi tren di negara maju sejak puluhan tahun silam.

Jose Carlon dan Ahmad Saifudin, duduk di kursi yang terpasang menggantung di dinding drywall. (Surya Mega/ koranbernas.id)

Konsep green building itu sendiri salah satunya terkait dengan pemilihan bahan bangunan yang ramah lingkungan. Serta perlunya peran stakeholder untuk menerapkan konsep green building agar dapat mengurangi tingkat risiko kerusakan lingkungan, dan terciptanya kualitas hidup yang lebih baik bagi manusia atau penghuni bangunan tersebut.

“Kami terus melakukan inovasi, demi terciptanya bahan bangunan ramah lingkungan demi menjaga kelestarian lingkungan. Kehadiran produk Gyproc di DIY saat ini diharapkan dapat menjadi alternatif sebagai bahan bangunan ramah lingkungan, selain sebagai upaya untuk memenuhi permintaan akan kebutuhan bahan bangunan yang meningkat seiring dengan pertumbuhan bangunan di kota ini,” kata Rini Anggraeni, Brand & Marcomm Manager Saint-Gobain Gyproc Indonesia.

Sebagai produk papan gypsum ramah lingkungan yang mendukung terciptanya konsep green building, Gyproc mengusung teknologi drywall system (dinding kering) atau dapat juga disebut dengan GypWall dimana bahan bangunan ini merupakan bentuk dari konstruksi kering yang tidak menggunakan batu bata dan semen basah sebelum proses pengecatan.

”Dengan sistem dinding kering ini, pengguna dapat mengurangi pemakaian air, mempercepat waktu konstruksi hingga 30 persen, serta tidak menghasilkan banyak kotoran pada area kerja yang mampu mengurangi labor cost  hingga 20-25 persen,” imbuh Kriswido Prasetya selaku Technical Support & Specification Manager Saint-Gobain Gyproc Indonesia.

Sementara, Jose Carlos mengatakan, pemakaian bahan drywall banyak dilakukan di Negara maju. Pemerintah Singapura tengah mendorong penggunaan drywall untuk menggantikan dinding bata sebagai usaha perlindungan terhadap lingkungan. Bahkan keseriusan pemerintah Singapura tersebut telah diwujudkan dalam bentuk regulasi dan menargetkan 80 persen dari bangunan-bangunan yang ada di sana, sudah tersertifikasi green mark pada tahun 2030 nanti.

Sementara di Indonesia, pada umumnya gypsum dipakai untuk plafon bagian atas bangunan. Walau ada pula yang sudah mulai memakainya untuk bagian dinding.

“Tapi ke depan, kami yakin terus meningkat. Karena ini merupakan bahan bangunan yang ramah lingkungan dan 100 persen dapat didaur ulang, serta dapat mengurangi potensi pemanasan global hingga 79 persen, penggunaan energi utama hingga 67 persen dan mengurangi penggunaan air bersih hingga 81 persen,” kata Jose.(SM)