Jokowi Akan Wujudkan Indonesia Sentris, Seperti Apa ?

246
Menteri Koordinator Bidang Maritim, Jendral TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan kuliah umum bertajuk ‘Pengembangan Industri dan Jasa Maritim Indonesia untuk Mewujudkan Visi Poros Maritim Dunia’di UPN "Veteran" Yogyakarta, Jumat (09/02/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Pemerintah menggenjot pembangunan di berbagai sector, tidak hanya di Jawa maupun Sumatra namun merata di berbagai pulau. Hal itu dilakukan agar tidak ada lagi anggapan pembangunan hanya dilakukan di kedua pulau tersebut.

“Pembangunan dulu hanya di Jawa dan Sumatra, sekarang jadi Indonesia sentris,” ujar Menteri Koordinator Bidang Maritim, Jendral TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan dalam kuliah umum bertajuk ‘Pengembangan Industri dan Jasa Maritim Indonesia untuk Mewujudkan Visi Poros Maritim Dunia’di UPN “Veteran” Yogyakarta, Jumat (09/02/2018).

Menurut Luhut, pemerataan tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang perkembangannya cukup tinggi. Pada 2017 lalu, pembangunan ekonomi diatas 5 persen. Kenaikan tersebut diyakini akan terus terjadi kedepannya. Sebab utang pemerintah pun saat ini terkendali.

Rasio hutang pemerintah pada saat ini 28 persen meski sebenarnya boleh sampai 60 persen asal untuk hal- positif seperti pembangunan infrastruktur dan bukannya membayar hutang atau bunga.

“APBN kita maksimal hanya bisa 25 persen untuk pembangunan. Karenanya pemerintah masih memiliki hutang untuk mencukupi pembangunan,” ungkapnya.

Walaupun masih dalam tahap pembangunan, lanjut Luhut. Indonesia merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia dengan kontribusi 2,5 persen. Sedangkan China dan Amerika berkontribusi lebih dari separuh pertumbuhan global saat ini.

Untuk mendukung peningkatan pembangunan itulah, tol-tol dibangun di sejumlah propinsi. Pembangunan tol selama tiga tahun terakhir pemerintahan Joko Widodo (jokowi) naik 44 persen dari 212 menjadi 569 tol dibandingkan jaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pembangunan tol tersebut mampu menurunkan biaya transportasi di sejumlah pulau yang selama ini kesulitan transportasi perdangan. Kemudahan moda transportasi itu akhirnya membuat harga-harga di sejumlah pulau ikut turun.

“Cost transportasi (biaya transportasi-red) Indonesia selama ini di angka 14,1. Dengan pembangunan tol diharapkan bisa turun jadi tujuh persen selama empat tahun kedepan,” tandasnya.

Sementara Ludiro Madu dari Pusat Studi Pertahanan dan Keamanan Jurusan Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan bahari yang luar biasa. Total ekonomi dari sektor ekonomi kelautan di negara ini mencapai lebih dari 1,2 Triliun US$ per tahun.

“Bahkan sektor maritim mampu menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 40 juta orang. Namun sampai saat ini baru sekitar 22 persen dari potensi tersebut yang dimanfaatkan,” ungkapnya.

Karena itu diharapkan Indonesia mampu memanfaatkan keunggulan ini untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi maritim di masa depan. Setelah sekian lama diabaikan kebijakan poros maritim dunia diharapkan mampu menjadi momentum kebangkitan ekonomi maritim Indonesia di masa depan. Sektor industri dan jasa maritim merupakan sumber nilai tambah yang sangat besar bagi perekonomian berbasis maritim.

“Kita berharap jiwa kemaritiman sudah semestinya hadir dalam alam pikiran masyarakat, terutama para mahasiswa calon penerus bangsa. Semoga Kuliah umum ini menjadi awal untuk membumikan kebijakan Poros Maritim Dunia untuk kesejahteraan rakyat Indonesia,” imbuhnya.(yve)