Pemerintah Didesak Naikkan Harga Cukai Rokok

116
Tim MTCC UMY, MET serta PP IPM foto bersama usai  menyampaikan pernyataan sikap, Selasa (21/08/2018) di Pascasarjana UMY. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Sebagai upaya memerdekakan generasi muda dari jeratan rokok, tiga organisasi yang berada di dalam Muhammadiyah yaitu Muhammadiyah Tobacco Control Center Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (MTCC UMY), Muhammadiyah Economic Team (MET) serta Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM), mendesak pemerintah supaya  menaikkan harga cukai rokok.

Sikap tegas tersebut disampaikan pada konferensi pers, Selasa (21/08/2018), di Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Hadir dalam kesempatan itu Praktisi Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Global MTCC UMY, dr April Imam Prabowo DTM & H MFM (Clin),  Pakar Ekonomi MET, Diah Setyawati SE MSc PhD serta Velandani Prakoso SIP selaku Ketua Umum PP IPM.

Harapannya, apabila harga rokok naik maka tidak akan dibeli oleh masyarakat, mengingkat konsumsi tembakau di Indonesia meningkat dengan pesat dalam 30 tahun terakhir ini.

“Harga rokok yang relatif murah, membuat mudahnya anak-anak membeli rokok. Terlebih lagi kebebasan menjual rokok eceran atau batangan serta penjualan rokok di warung-warung di dekat sekolah,” kata Velandani Prakoso.

Dia yakin, akses yang begitu mudah terhadap rokok menjadi ancaman serius bagi upaya kesehatan publik di Indonesia, terutama anak-anak yang menjadi generasi emas masa depan bangsa.

Pada momentum kemerdekaan RI yang menjadi bukti perjuangan bangsa, kemudian euforia digelarnya Asian Games 2018, mestinya semua pihak berperan menjaga generasi muda negara ini agar tidak terkena dampak rokok, merdeka dari jeratan rokok untuk menghasilkan bangsa yang cemerlang.

April Imam Prabowo menambahkan, pihaknya sangat prihatin ramainya pemberitaan fenomena bayi perokok di Indonesia, yaitu RAP, bayi berusia 2,5 tahun asal Sukabumi yang kecanduan merokok.

Dia mengatakan, ini bukan kasus yang pertama. Pada 2010 hal serupa terjadi. AR, bayi berusia 2 tahun di Banyuasin Sumatera membuat Indonesia dijuluki Baby Smoker Country. “Di tahun 2018 ini, kita melanggengkan julukan tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan data, jumlah perokok pemula usia 15-19 tahun terus meningkat dari tahun 2001-2016, yaitu dari 12,7 persen  menjadi 23,1 persen. Remaja laki-laki perokok berjumlah hingga lebih dari separuh (54,8 persen) dari total perokok di Indonesia.

“Hal tersebut merupakan tamparan bagi kita semua dan tragedi bagi bangsa,” kata April Imam Prabowo.

Dari informasi awal, awalnya RAP memungut puntung-puntung di halaman rumah kemudian disedot dan kecanduan.

“Kian memprihatinkan adalah aksi tersebut tidak mendapat larangan dari orang tuanya, dan orang tuanya tak berdaya menghadapi kemauan anaknya untuk merokok, ironis,” paparnya.

Mengenai kerugian akibat rokok dari sisi ekonomi, Diah Setyawati menjelaskan, secara ekonomi mikro inilah yang disebut “lingkaran setan kemiskinan”, yaitu keadaan keluarga menjadi tetap miskin dan menjadi lebih miskin.

“Maka, lingkaran setan kemiskinan yang diakibatkan dari kecanduan rokok ini harus dicegah secara masif. Di sisi ekonomi makro, bonus demografi Indonesia akan gagal di tahun 2025 karena produktivitas tenaga kerja Indonesia semakin memburuk,” jelasnya.

Diperkirakan total biaya karena dampak hilangnya produktivitas di Indonesia adalah sekitar Rp 235,4 trilliun. Sedangkan cukai rokok Indonesia tahun 2013 adalah Rp 108,4 trilliun.

Cukai teresebut bahkan kurang dari setengah total produktivitas perokok Indonesia yang hilang. Lebih jauh lagi, citra negara kita tentu luluh lantak di tataran dunia akibat tidak berhasil dalam pengendalian tembakau. (sol)