Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi Sekuat Tenaga

81
Menkeu Sri Mulyani menghadiri secara resmi ASEAN Valuers Association Congress ke-21 yang digelar di Yogyakarta mulai, Selasa (25/9/2018), di Hotel Tentrem Yogyakarta. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Menteri Keungan Sri Mulyani menyatakan pemerintah akan sekuat tenaga menjaga stabilitas ekonomi nasional yang sedang mengalami goncangan. Berbicara kepada media, usai membuka secara resmi ASEAN Valuers Association Congress ke-21 di Yogyakarta, Selasa (25/9/2018) siang, Menkeu Sri Mulyani menyatakan pemerintah terus memantau secara serius dinamika ekonomi nasional.

“Pemerintah kan menyampaikan setiap hari, bahwa kita terus memantau dan dinamika ekonomi kita akan lihat,” ujarnya di Hotel Tentrem Yogyakarta.

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar dan ancaman membengkaknya defisit anggaran tahun ini, Sri Mulyani mengharapkan masyarakat bersabar menunggu hasil dari kebijakan yang digulirkan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

“Termasuk kebutuhan untuk ekspor-impor kita, respons terhadap policy (kebijakan) kita seperti pengenaan tari pajak PPH 22 impor. Dan juga kita akan lihat kemampuan industri untuk merespons policy itu,” tutur dia.

Baca Juga :  Pesan Sultan untuk Warga Binaan

Menkeu juga menyatakan, pemerintah akan terus memantau kekuatan sektor riil di Tanah Air menghadapi pelemahan rupiah yang masih terus berlangsung.

“Kita akan terus mendorong ekspor kita, dan yang terpenting kita akan terus lihat dan menjaga kondisi (ekonomi) kita agar tetap terjaga kondisinya,” sebutnya.

Sri Mulyani menegaskan, beragam kebijakan yang diambil seperti di antaranya peningkatan tarif pajak barang impor ditujukan untuk menekan laju pelemahan nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas kondisi ekonomi di Tanah Air.

“Untuk (negara) yang ekonominya mengalami account deficit dalam neraca pembayarannya, dia perlu menjaga agar daya tahan ekonominya meningkat. Maka seperti Indonesia, kita lakukan berbagai langkah untuk mendukung ekspor, menciptakan dukungan untuk investasi agar capital inflow tetap terjaga,” paparnya.

Baca Juga :  JJLS Akan Bergeser, Ke Arah Mana???

Baru-baru ini pemerintah menetapkan sebanyak 1.147 jenis barang konsumsi impor mengalami kenaikan Pajak Penghasilan atau PPh yang beragam. Sedangkan 57 jenis barang impor yang merupakan bahan baku penting tidak dikenakan kenaikan tarif pajak.

Pemerintah berharap produsen mencari bahan baku lokal alternatif agar tidak bergantung pada kebutuhan impor yang menguras cadangan devisa negara.

“Agar impor bisa dikelola sehingga tidak menimbulkan dinamika current deficit yang begitu besar,” tandasnya saat ditanya media. (ros)