Pemimpin Dilarang Membual

Dinas Kebudayaan Sleman Kaji Tata Nilai Budaya

120
Sarasehan tata nilai budaya Kabupaten Sleman di aula Hotel Savita Inn, Kamis (13/08/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sebagai upaya mengenalkan dan memberi pemahaman terhadap nilai budaya Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan sarasehan tata nilai budaya di aula Hotel Savita Inn, Kamis (13/08/2018).

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Aji Wulantara SH MHum menjelaskan pada sarasehan tersebut dikaji nilai budaya yang merupakan kandungan kebudayaan kabupaten ini.

“Kita mencoba mengkaji nilai budaya dalam kebudayaan kita khususnya Sleman. Ini tidak bisa lepas dari dasar filosofi kebudayaan ke-Yogyakartaan, tapi Sleman punya kekhususan,” jelasnya.

Kekhususan yang dimiliki Kabupaten Sleman bisa dilihat dari perjalanan sejarah Pemerintahan Kabupaten Sleman yang tertera dalam lambang (logo) Kabupaten Sleman yang memilki beberapa makna.

“Pertama memiliki makna Prasaja, pemimpin dan masyarakat Sleman itu berwatak prasaja (sederhana), tidak berlebih-lebihan dalam berbagai hal,” jelasnya.

Konsekuensi dari implementasi nilai budaya tersebut maka para pemimpin maupun warga di kabupaten ini dilarang membual. “Prasaja bisa dipahami melalui tutur yang tidak sombong, tidak membual dan dapat dipercaya,” tuturnya.

Dalam hal berpakaian prasaja pun harus sesuai konteks yakni resmi, formal dan santai tidak berlebihan serta menghargai orang lain.

Lebih lanjut Aji mengatakan pada kegiatan tersebut juga diberikan pemahaman mengenai welas asih, yang berarti pemimpin harus mencintai rakyatnya.

Secara universal nilai welas asih ini terdapat di mana-mana tetapi ketika menjadi sebuah identitas khusus yang memberikan makna pada lambang Kabupaten Sleman, hal itulah yang tidak dimiliki wilayah lain.

Sleman memiliki filosofi dalam bukti fisik yang ada. “Kemudian ada Sembada yang menjadi slogan Kabupaten Sleman serta terdapat dalam logo Sleman (segi tiga) yang memberi makna tanggung jawab dan jiwa ksatria. Ini yang tidak dimiliki wilayah lain. Nilai mendasar tetapi tidak dimiliki wilayah lain,” papar Aji.

Selain itu juga terdapat makna tembayatan yang berarti bekerja sama, yaitu kerja sama antara pemerintah atau pemimpin dengan rakyat dan para pakar atau para profesional dalam membangun Pemerintahan Kabupaten Sleman.

Ke-4 karakter inilah menurut Aji yang menjadi filosifi dasar nilai budaya dalam kebudayaan Kabupaten Sleman.

“Selain memperkenalkan, kita juga memberi pemahaman rujukannya, itu yang kita cari. Sebetulnya ajaran budaya Jawa yang mengandung nilai itu banyak sekali, tidak hanya empat karakter tadi, tapi setidaknya kita bisa mengerti sejarah masyarakat kita ini ada sumber yang menjadi rujukan itu,” kata Aji.

Sarasehan diikuti sejumlah peserta dari unsur pemerintah, pemerhati budaya, pendamping desa budaya, pelaku seni serta guru-guru. Adapun narasumber Kepala Dinas Kebudayaan Sleman serta dosen UNY Prof Suwarno Pringgowidagdo.

Aji berharap masyarakat Sleman memahami nilai budaya dari Kebudayaan Kabupaten Sleman sehingga dapat menjadi rujukan proses menghadapi tantangan globalisasi zaman yang tanpa arah. (sol)