Pemimpin Harus Memberi Teladan

267
Ketua Komisi A DPRD DIY menjadi  pembicara seminar nasional Pancasila,  UU Ormas dan Demokrasi Kita di kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (20/01/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menyatakan keteladanan para pemimpin dan tokoh sangat dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita negara Indonesia merdeka,  bersatu,  berdaulat adil dan makmur.

“Ayo dari Yogyakarta kita bangun semangat bersama, Yogyakarta sebagai pelopor Pancasila. Kita ingatkan pentingnya keteladanan para pemimpin dan  para tokoh untuk menjalankan ideologi Pancasila dengan menumbuh kembangkan semangat gotong royong,” ujarnya.

Berbicara di forum Seminar Nasional Pancasila,  UU Ormas dan Demokrasi Kita di kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jalan Kapas, Sabtu (20/01/2018), dia bersyukur Indonesia memiliki Pancasila.

Alhamdulillah, kita punya Pancasila pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari lebih 17 ribu pulau, lebih 1.200 bahasa daerah, lebih dari 875 etnis atau suku. Kita bangga karena keberagaman namun bersatu dalam satu negara bangsa Indonesia” kata anggota dewan dari Fraksi PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Kota Yogyakarta itu.

Pancasila sebagai ideologi negara bangsa Indonesia, dasar sekaligus pedoman dan arah pergerakan kebangsaan Indonesia. Pemahaman dasar filosofis yang benar diperlukan agar bisa menjadi satu kesadaran bersama sebagai bangsa Indonesia.

Dia menegaskan mahasiswa sebagai kelompok terdidik berkesempatan membangun bangsa dengan cara dan semangat zaman masing-masing.

Kegiatan yang diselenggarakan Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DIY ini dihadiri pembicara dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Polhukam,  Dir Intelkam Polda DIY serta  Kasintel Korem 072/Pamungkas.

Pada acara yang sekaligus menjadi ajang musyawarah besar Forum BEM DIY ini disepakati 7 poin Deklarasi Sapta Cita kesetiaan mahasiswa kepada ideologi Pancasila. Deklarasi dibacakan oleh Ketua Forum BEM DIY,  Muhammad Fatah dari BEM Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Daya kritis

Lebih lanjut, Eko Suwanto, politisi muda PDI Perjuangan menyatakan dukungan sepenuhnya kepada TNI dan Polri maupun perguruan tinggi agar terus bersama-sama menggelorakan Pancasila di semua lapisan hidup bangsa.

Berikan ruang bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan daya kritis,  menggelorakan di kalangan kampus dengan gaya masa kini. Dengan teknologi informasi yang berkembang cepat, mahasiswa bisa belajar Pancasila dari internet.

Sekarang sudah bisa didownload Pidato Bung Karno tentang Lahirnya Pancasila atau tulisan lain tentang Pancasila. “Zaman saya dulu harus fotokopi, nah sekarang kawan-kawan mahasiswa kan bisa akses melalui internet,” tambahnya.

Hobi membaca harus dikembangkan disertai diskusi yang produktif tentu saja. Mahasiswa dan pemuda adalah calon pemimpin bangsa.

“Kita dukung akses belajar Pancasila seluas-luasnya. Alhamdulillah pada 2018 DPRD DIY bersama Pemda DIY sudah menyetujui Program Sinau Pancasila yang akan dilaksanakan di 78 kecamatan dan 10 tempat lain di Kabupaten/Kota selain untuk SMU/SMK,” ungkapnya.

Program ini diselenggarakan oleh Badan Kesbangpol DIY bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi. Program Sinau Pancasila melanjutkan program yang telah dilaksanakan tahun 2017.

“Kita juga bersyukur Program Sinau Pancasila untuk PNS juga sudah disetujui dilaksanakan Badiklat Pemda DIY di tahun 2018. Ayo kita wujudkan Jogja Pelopor Pancasila,” kata Eko Suwanto.

Secara khusus dia menyebutkan perlunya peran media menjaga dan menyiarkan Pancasila sebagai landasan kebijakan publik.  Perguruan tinggi diharapkan juga membantu pendidikan Pancasila dengan gaya “zaman now”, menempatkan paradigma bahwa demokrasi sejatinya alat dan metode.  Dunia intelektual dan sikap kritis harus disikapi dengan biasa saja,  berikan ruang untuk berbeda pendapat.

Forum intelektual

Sementara Wakil Rektor UAD  Dr Abdul Fadlil MT menyatakan  harapannya agar mahasiswa bisa lebih berkembang dengan forum intelektual, berproses untuk bisa lebih berperan lewat jalur audiensi, di luar jalur aktivisme juga aksi di jalanan semata tapi juga berperan dalam proses penyusunan kebijakan publik.

“Ini proses mendewasakan diri dalam kegiatan kemahasiswaan,  tema Pancasila,  UU Ormas dan Demokrasi Kita. Ada dialog dan silaturahmi antargenerasi. Semangat awal, bisa berkembang untuk menghadapi tantangan,” kata Abdul Fadlil.

Menurut dia, mahasiswa merupakan calon pemimpin ke depan. Dialog antargenerasi penting dan tetap terjaga. Lewat seminar nasional sekaligus musyawarah besar Forum BEM DIY, diharapkan bisa menggaungkan lagi semangat membangun bangsa dengan diwarnai nilai Pancasila.

Sedangkan Prabawa Eka Susanta selaku Direktur Bina Ideologi, Karakter dan Wawasan Kebangsaan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, menyatakan mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa diharapkan memahami persoalan kebangsaan masa depan.

Pemahaman soal otonomi juga harus dipahami. Era sekarang memang tidak ada lagi sikap represif dikerjakan oleh pemerintah karena demokrasi yang serba terbuka di masa kini.

Selain itu,  pemahaman demokrasi juga tidak berarti bebas tanpa batas. Ibarat permainan bola, ada aturan yang disepakati bersama.

“Ada data yang menyatakan nasionalisme mahasiswa saat ini lemah, masyarakat juga merasakan peran mahasiswa di lingkungan tempat tinggal sangat kurang. Ini tantangan bagi semua mahasiswa agar bisa berperan dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” kata Prabawa. (sol)