Penahanan Ajudan Diduga Bermuatan Politis

341

KORANBERNAS.ID — Penahanan lima orang dalam kasus saling lapor antara aparat Satpol PP dengan suporter Persiba yakni Paserbumi diduga kuat bermuatan politik. Kendati tidak mau menyebutkan sosok dibalik kasus tersebut, namun Bupati Bantul, Drs H Suharsono menilai kasus itu berbau politis.

“Ini bermuatan politis. Tapi saya tidak enak menyebut siapa karena saya tidak enak dengan lawan politik saya. Yang pasti itu ada,” kata Bupati kepada koranbernas.id di kantornya, Kamis (13/12/2017) siang.

Hanya saja, sebagai ‘bapak’ dirinya sudah mengupayakan agar kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan, bahkan dirinya terjun sendiri . Namun ternyata upaya tersebut belum membuatkan hasil hingga berakhir dengan penahanan lima orang yang terlibat aksi saling menganiaya.

“Itu semua anak saya, sebagai bapak saya upayakan untuk mendamaikan,” jelasnya.

Diceritakan kalau dirinya sudah tiga kali mendatangi korban dari Paserbumi yakni Agung asal Jetis dan Eren yang beralamat di Pleret. Dari pihak keluarga Agung sudah tidak apa-apa. Namun dari pihak Eren, bupati mengaku belum bisa bertemu.

“Saya sudah tiga kali datang ke rumah Eren, tetapi tidak bisa bisa bertemu. Entah disembunyikan atau apa saya tidak mau bicara, walaupun saya tahu,”katanya. Namun demikian upaya perdamaian tersebut tetap akan diupayakan oleh bupati.

Secara terpisah Manajer Persiba, Endro Sulastomo membantah adanya dugaan politik tersebut.

“Ya ampun, tidak ada itu,”kata Endro yang seorang politisi PDIP tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya Jajaran kepolisian Resort Bantul menahan tiga orang anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan dua anggota Paserbumi terkait kasus saling lapor dalam pengeroyokan yang terjadi Juli silam.

Kelima orang itu ditahan di Mapolres Bantul sejak Selasa (12/12/2017) sore usai dilakukan penyidikan secara intensif. Salah satu yang ditahan adalah ajudan Bupati Bantul, Drs H Suharsono.

Adapun mereka yang ditahan dari pihak Satpol PP adalah AV (36 tahun) warga Dusun Klegen, Desa Tirtosari,Kec Kretek, MI (29 tahun) warga Dusun Pelemmadu, Desa Sriharjo,Kec Imogiri dan SAA (30 tahuhn) warga Dusun Suren Kulon, Desa Canden, Kecamatan Jetis.

Sedangkan dari pihak suporter Persiba adalah ENS (19 tahun) waga Pleret serta AP (23 tahun) waga Dusun Beran, Desa Canden Kec Jetis. Kasus ini sendiri terjadi pada tanggal 24 Juli 2017 silam saat ada pertandingan antara PPSM Magelang dengan Persiba di Stadion Sultan Agung. Kala itu suporter persiba yakni Paserbumi tidak terima dengan keputusan wasit yang dinilai merugikan tim mereka. Akhirnya Paserbumi merangsek ke tengah lapangan.

Aksi turun lapangan tersebut berusaha dihalau aparat termasuk Satpol PP yang kala itu sedang berjaga. Namun karena kondisi yang kacau, justru terjadi penganiayaan terhadap anggota Satpol PP yang bertugas dan diduga dilakukan oleh suporter Paserbumi.

Atas kejadian tersebut kemudian pada 1 Agustus 2017 dilakukan proses mediasi antara pihak Paserbumi dengan Satpol PP di Kantor Satpol PP. Namun di situ terjadi penganiayaan terhadap oknum Paserbumi oleh petugas Satpol PP sebagai aksi balas dendam. Aksi tersebut berakhir dengan saling lapor di Polres Bantul. (yve)