Penari Jatuh Pingsan di Alun-alun Sewandanan

730
Penari membawakan tarian Kebo Giro di Alun-alun Sewandanan Pakualaman Yogyakarta, Sabtu (05/05/2018), dalam rangka peringatan Tingalan Dalem KGPAA Sri Paku Alam X. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Alun-alun Sewandanan Pakualaman Yogyakarta, Sabtu (05/05/2018) siang, begitu meriah oleh suara gamelan plus sindhen gaya Banyumasan. Suaranya terdengar rancak.

Sejumlah anak muda berkostum penari dengan gagah menarikan tarian Jangkrik Genggong. Mereka merupakan murid-murid SMPN I Selomerto Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.

Matahari begitu garang di atas langit Yogya. Pantulan sinarnya yang jatuh di atas konblok memunculkan panas balik.

Para penari tanpa alas kaki itu sejak awal masuk arena pertunjukan terbuka memang sudah berjalan jingkat-jingkat melawan panas. Meski arena sudah disiram air mengalir dari selang, namun sekejap sudah kering lagi.

Seorang penari pingsan karena cuaca panas. (arie giyarto/koranbernas.id)

Akhirnya di saat seluruh pandangan tertuju pada penari, salah satu di antaranya terjatuh pingsan dan digotong ke panggung karawitan untuk mendapat pertolongan. Karena udara memang sangat panas akhirnya Ragil pun dibopong masuk lingkungan Pura Pakualaman.

“Hanya pingsan saja karena kepanasan. Bukan kesurupan,”  kata Wahadi dan Usup, sang pendamping spiritual menjelaskan kepada koranbernas.id.

Hal itu tidak mengganggu acara Setukliwonan yang merupakan rangkaian peringatan Tingalan Dalem KGPAA Sri Paku Alam X.

Penari di bawah terik matahari. (arie giyarto/koranbernas.id)

Grup kesenian tradisional Wanusaba Jaya dari Wonosobo pun segera menampilkan tarian Kebo Giro. Dengan gemulai Wina menari, sementara Taufik, pasangannya membawa pecut menguasai arena dengan gagah.

Tapi tak lama kemudian Taufik seperti kesurupan dan Wina pun undur diri. Tinggal Taufik sendirian dengan wajah tertunduk sambil menggerak-gerakkan tubuh.

Wah, kami tidak menyiapkan sesaji,” kata salah seorang pawang. Beberapa menit kemudian sejumlah pawang masuk mengelilingi sang penari. Salah seorang di antaranya membawa selendang.

Ada yang minta segelas teh dan dengan mantra diminumkan pada penari. Meski agak susah akhirnya berhasil juga. Tak lama kemudian Taufik pun sadar.

Seorang penari terlihat seperti kesurupan. (arie giyarto/koranbernas.id)

“Tidak apa-apa,” katanya sambil terengah-engah menjawab pertanyaan koranbernas.id di sisi panggung tentang bagaimana rasanya kesurupan.

Pria berpostur tinggi iti pun segera merebahkan diri  Ketika tidak sadar, katanya, dia masih mendengar suara gamelan. Dan saat diminumi air teh terasa bau bunga.

Ada sesuatu yang diambil dari mulut Taufik dan oleh sang pawang ditaruh di tanah pojok panggung karawitan. Dia mengaku sudah sering kesurupan kalau menari. Jadi sama sekali tidak masalah dan jangan dikaitkan dengan acara. “Wong memang begitu,” kata dia.

Secara keseluruhan, tim kesenian Wanusaba Jaya menampilkan delapan nomor tari, memboyong 30 orang penari, penabuh gamelan serta para pendamping serta pawang.  Mereka membawakan tarian khas Wonosobo.

Menurut Guno Widagdo biasanya kesenian tersebut muncul pada pesta perkawinan dan berbagai acara. Sering sekali ditanggap ke luar kota. Ketika di Solo ada pesta tari pekan lalu, mereka juga tampil.

Tim penari dari SMP Negeri 1 Selomerto Wonosobo. (arie giyarto/koranbernas.id)

Jatilan

Grup kesenian tradisional sengaja ditampilkan sebagai salah satu upaya melestarikannya. Selain dari Wonosobo juga tampil grup Jatilan dari Gunungkidul serta Angguk dari Kulonprogo. Malamnya ada acara ngopi bareng. Jumat malam ada dialog kebudayaan di Kepatihan Pakualaman.

Sejak pagi Alun-alun Sewandanan sudah diramaikan Pasar Tiban. Sejumlah petani dari Kebonharjo Kecamatan Samigaluh Kulonprogo telah menggelar dagangannya di gubuk-gubuk beratap rumbia.

Mereka membawa berbagai hasil pertanian seperti kelapa, aneka umbi-umbian seperti suweg, kimpul, pohung. Juga  nangka muda, kates, sayuran, petai, pisang, gula Jawa dan gula aren serta sejumlah makanan olahan.

Semuanya dijual di bawah harga pasar. Seperti kelapa harganya Rp 2.000 sampai Rp 2.500. Kimpul Rp 3.000 per kg. Juga makanan olahan dengan bahan dasar hasil pertanian seperti aneka ceriping. Bukan hanya singkong, tales dan pisang, ada juga keripik daun pegagan yang sekaligus berkhasiat untuk obat.

Penonton terkesima menyaksikan para penari. (arie giyarto/koranbernas.id)

Pasar tiban ini juga didukung oleh ibu-ibu dari sekitar Pura Pakualaman yang tampil dengan olahan makanannya.

Acara Setukliwonan ini juga dimeriahkan dengan pergantian prajurit jaga. Usai upacara di halaman Pura, para prajurit kemudian kirab keliling beteng Pura dan cukup menarik perhatian pengunjung.

Acara masih berlangsung sampai Minggu (06/05/2018) baik pasar tiban maupun pentas seni. (sol)