Pendar Warna Warni Sungai Kapuas yang Mempesona

220
Suasana malam di atas kapal wisata Sungai Kapuas Pontianak, Jumat (03/11/2017). Wisata menumpang kapal berkeliling sungai, menjadi salah satu suguhan wisata kota ini. (arie giarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Sungai Kapuas di Pulau Kalimantan bagian barat begitu luas, tetapi airnya begitu tenang. Di malam hari permukaannya berpendar-pendar memantulkan cahaya lampu yang jatuh di bibir sungai. Beberapa buah kapal besar kecil berjejer di dermaga Alun-alun Pontianak.

Awak kapal sibuk menarik perhatian para pendatang Jumat (03/11/2017) malam untuk mau menumpang kapalnya. Semua menyebut kapalnya segera berangkat.

Suasananya cukup ramai. Ada yang carteran Rp 800.000 sekali jalan. Atau pilihan, bergabung dengan penumpang lain, hanya Rp 15.000 per orang.

Di lantai satu, hampir semua kursi terisi. Sebagian penumpang memilih di lantai dua. Lebih eksotis memandang pendaran cahaya lampu warna-warni  yang jatuh di atas air dari lantai atas, saat anjungan kapal membelah air meninggalkan dermaga menyusuri sungai.

Suara mesin diesel pun memecah sepi. Ada kantin siap melayani. Ada menu pilihan pisang keju, pop mie, atau sosis bakar. Juga minuman panas, es atau botolan siap menemani penumpang

“Perjalanannya memakan waktu setengah jam. Dari dermaga, sampai jembatan Kapuas lalu balik lagi,” kata Iskandar, sang pemilik kapal galairang dengan nama Kapal Perintis Pertama.

Baca Juga :  Menikmati Sensasi Pasar Apung Sungai Barito

Awalnya pria berprofesi penyelam ini memiliki dua buah kapal berkapasitas sekitar 75 penumpang itu. Namun karena manajemen tidak bagus, satu kapal dijual. Dengan satu kapal tersisa, rata-rata sekali putaran Iskandar bisa mengantongi Rp 2 juta.

Untuk mengoperasionalkan kapal, selain dibantu anaknya Tri, juga mempekerjakan tiga karyawan serta dua jurumudi. Sisa hasil usahanya, selain dipotong harga BBM dan gaji karyawan, masih lumayan.

“Kami menggunakan solar untuk mesin dan bensin untuk genset lampu penerangan,” kata Tri.

Soal BBM tidak masalah. Tidak sulit mendapatkannya. Didukung manajemen yang tertata, dari hasil operasional kapal, Iskandar kini  bisa menyiapkan sebuah kapal berukuran lebih besar.

Kapal ini, nantinya lebih mewah dengan kapasitas 150 penumpang.

“Nantinya akan mirip kapal Kartika yang tengah sandar menunggu penumpang itu,” kata Iskandar sambil menunjuk kapal berukuran lebih besar yang dipenuhi cahaya lampu warna-warni.

Kapal terbuat dari kayu ulin ini dikerjakan sendiri oleh Iskandar dibantu dua orang. Saat ini sudah 50 persen penggarapannya. Kalau saja kapal besar itu sudah jadi, maka pria asal Pontianak ini berharap pendapatan akan semakin meningkst

Baca Juga :  Ingat, Jasa Pramuwisata pun Butuh Lisensi

Tak Pernah Banjir

Sungai Kapuas, meski sangat luas namun airnya selalu tenang. Tidak bergejolak, tidak pernah banjir sehingga penumpang kapal pun bisa merasa nyaman, tanpa khawatir akan keselamatan.

Di dermaga Alun-alun Pontianak, ada sepuluh kapal besar kecil mencari rezeki. Untuk mengaturnya, dibuat sistem antre.

Kapal Perintis milik Iskandar malam itu sudah dua kali mengangkut penumpang. Itu adalah putaran terakhir, karena operasional kapal wisata itu hanya sampai pukul 10 malam.

Kapuas tidak hanya memberi rezeki pada pemilik kapal. Tetapi banyak pula pedagang sosis, jagung bakar dan aneka minuman, dengan meja kecil menggelar dagangan dengan meja kecil di pinggir sungai. Semua berharap mendapat rezeki, karena kawasan itu tak pernah sepi. Warga saban hari berkumpul di pinggiran sungai. Mulai dari pasangan-pasangan remaja yang memadu kasih, keluarga-keluarga yang mencari angin, atau pendatang dari berbagai daerah yang ingin menikmati eksotisme Kapuas di malam hari. (SM)