Pendidikan Inklusi Masih Terhambat

389
Rapat desiminasi hasil penelitian pendidikan inklusif di Gunungkidul, Selasa (29/08/2017). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pendidikan inklusif sudah dicanangkan pemerintah namun faktanya hingga kini belum berjalan baik. Ini terjadi karena ketidakmampuan guru mengidentifikasi karakteristik siswa berkebutuhan khusus.

Untuk meminimalisasi hambatan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Yogyakarta, Yayasan Edukasi Anak Nusantara, Univesity of Sydney serta Fakultas Psikologi Universitas Gadjah mada (UGM) Yogyakarta, mengembangkan penelitian Developing a Strategy for Building Teacher’s Capacity to Supportt All Children in Pesisir Gunungkidul.

Ketua Yayasan Edukasi Anak Nusantara, KPH Wironegoro, usai menghadiri Desiminasi Hasil Penelitian yang digelar di Pemkab Gunungkidul, Selasa (29/08/2017),  mengatakan berdasarkan penelitian awal yang dilaksanakan mulai 2015 menunjukkan masih ada hambatan implementasi pendidikan inklusif di Gunungkidul.

Hambatan yang ditemukan di antaranya ketidakmampuan guru mengidentifikasi karakteristik siswa berkebutuhan khusus.

Asisten peneliti, Tya Inayatilaah, menuturkan salah  satu  pendekatan pembelajaran untuk meminimalisasi hambatan penyelenggaraan pendidikan inklusi yakni dengan Universal Design  for Learning (UDL).

Pendekatan UDL ini menekankan bagaimana guru dan pengembang kurikulum  mengidentifikasi dan meminimalkan  hambatan, melalui  perencanaan  pembelajaran yang  efektif dengan berfokus pada engagement.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengungkapkan di Kabupaten Gunungkidul ada 240 sekolah yang telah menyelenggarakan pendidikan inklusif.

Seluruh guru sudah mendapatkan pelatihan dan seluruh sekolah sudah memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. (st aryono)