Pendidikan Tak Hanya Sekadar Pendidikan Politik

257
Pangarsa Abdi Dalem PWSY Drs Oka Kusumayudha bersama dr H Soetomo Parastho, di antara peserta Diskusi Kebangsaan ke-IX di kampus USD, Selasa (24/10) siang. (Arie Giyarto/KoranBernas.id)

KORANBERNAS.ID — Untuk membangun negeri yang tengah carut marut ini, komponen bangsa harus mengubah orientasi ke depan, bukan ke belakang. Kuncinya adalah pada pendidikan bagi generasi muda calon pemimpin bangsa, tapi bukan hanya pendidikan politik.

Masyarakat seperti sudah “neg” dengan pendidikan politik. Dalam hal ini media masa pun perlu mendukung dengan mengurangi porsi berita-berita berkonten politik. Menggantinya dengan berita tentang prestasi generasi muda Indonesia saat ini yang bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi yang lain. Mengacu pada prestasi, bukan prestise.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Kebangsaan ke-IX, Selasa (24/10) siang, yang digelar oleh Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta bekerjasana dengan Universitas Sanata Dharma (USD) di Ruang Kundjono Kampus USD Gejayan Yogyakarta.

Selain itu para pemimpin harus mampu menjadi contoh nyata sebagai pemimpin yang jujur, bijaksana dan anti korupsi. Dalam membangun bangsa, kearifan lokal memang perlu.

Namun sehebat apapun kearifan lokal yang ditanamkan sejak SD, SMP dan SMA, setelah berada di lingkungan yang lain, maka akan bisa menjadi lain. Bangsa ini sedang sakit dan untuk mengatasinya tidak cukup dengan memberi obat. Tetapi harus “diamputasi” di bagian yang sakit, sehingga kalau hal itu dilakukan, lambat laun akan menjadi bersih.

Mengapa kondisi ini bisa terjadi, akar masalahnya di antaranya juga terletak pada masyarakat sendiri. Kenapa lebih memilih pada pemimpin yang berbagi-bagi (amplop). Bukan memilih pemimpin yang punya kemampuan dan integritas serta bersih meski tidak bagi-bagi uang. Sehingga formulasi apa pun untuk menjadi pemimpin pilihsn rakyat yang ideal juga tergantung bagaimana rakyat memilih pemimpin.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengikis mental priyayi yang selama ini dihadirkan pada sosok yang menggiurkan. Di tataran pemimpin tidak memberi teladan, sedang di kalangan bawah ingin menjadi priyayi. Untuk mewujudkannya, mereka pun “nrabas” ke mana-mana.

Diskusi ini juga banyak membahas Pancasila, Bhineka Tunggal Ika yang selama ini diharapkan bisa menjadi perekat rasa kebangsaan di negeri ribuan pulau dan ratusan suku bangsa ini. Diskusi bertema Kebangsaan dalam Religi dan Budaya ini menghadirkan empat narasumber. Masing~masing Dr Mohamad Dawami (Dosen UIN dan anggota Dewan Kebudayaan DIY). Prof Dr Suwardi Endraswara MHum (Dosen UNY dan Ketua Ikatan Sastrawan Indonesia). Dr Anton Haryono MHum serta Dr Purwanto MA (keduanya Sejarawan USD).

Selain kalangan undangan sepuh, diskusi banyak dihadiri kalangan generasi muda baik mahasiswa S1 maupun S2 dari berbagai universitas di Yogyakarta . Sehingga dialog berjalan dengan dinamis lantaran lontaran-lontaran kritis penanggap. (arie)