Pengembangan Pariwisata di Danau Toba Tidak Bisa Abaikan Kaum Milenial

232
Jubi Prasetyo sedang memberikan pemaparan dalam Seminar Pariwisata Destinasi Prioritas Danau Toba di Keraton Ballroom I Hotel Marriot Yogyakarta, Sabtu (08/09/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Rencana pengembangan dan upaya mendorong 10 destinasi wisata baru termasuk kawasan Danau Toba, harus mengusung strategi baru. Strategi ini harus juga memperhitungkan pasar milenial, yang sekarang ini sudah tumbuh mencapai lebih 50 persen dari populasi.

Guru Besar Perencanaan Pariwisata Fakultas Teknik UGM Prof Wiendu Nuryanti PhD dalam Seminar Pariwisata Destinasi Prioritas Danau Toba di Keraton Ballroom I Hotel Marriot Yogyakarta, Sabtu (08/09/2018) mengatakan, kaum milenial samasekali tidak bisa diabaikan dalam segala bidang. Tidak terkecuali sektor pariwisata. Karena itu, tanpa upaya serius untuk memahami perilaku dari kaum milenial, apapun program kepariwisataan dikhawatirkan akan sia-sia.

“Coba saja lihat data. Generasi milenial kita lebih dari 50 persen. Celakanya, produk-produk wisata kita masih jadul. Jadi ya gak konek. Di tempat lain, orang sudah menjual akomodasi yang bisa membuat kaum milenial gaya-gaya, sementara d tempat kita masih belum berubah. Hotel masih yang gede-gede, milenial gak cocok,” kata Wiendu.

Baca Juga :  GLZoo Beri Bantuan Lima Sapi Kurban

Melihat perilaku kaum milenial, Wiendu menyarankan para pelaku jasa pariwisata termasuk ASITA mau berevoluasi dan mempelajari betul bagaimana seharusnya mereka menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar.

Para pelaku pariwisata harus dapat memahami perilaku dan budaya online dari kaum milenial ini.

“Termasuk tentunya untuk 10 kawasan wisata baru termasuk kawasan Toba. Promosi gencar tanpa mau memahami dan berubah menyesuaikan gaya pasar, akan percuma. Jadi menurut saya memang perlu strategi baru untuk mendorong kepariwisataan,” tandasnya.

Prof Wiendu Nuryanti. (Ist)

Ketua Asita Sumatera Utara Solahudin Nasution mengatakan, saat ini pembenahan infrastruktur khususnya terkait akses masuk ke Sumatera Utara dan Toba terus dilakukan. Selain Bandara Kualanamu, pintu masuk ke Medan dan kawasan wisata Danau Toba juga dapat diakses dari Bandara Si Langit. Dua bandara ini, kata Solah memiliki fasilitas yang sangat memadai sebagai bandara internasional.

“Artinya, akses ke Toba sekarang begitu mudah. Sejauh ini, kunjungan wisatawan kebanyakan masih dari Singapura dan Malaysia. Kami berharap ke depan wisatawan dari domestik juga makin meningkat,” katanya.

Baca Juga :  Pancasila Harus Jati Diri Bangsa Indonesia

Dikatakan, sejauh ini angka kunjungan wisatawan ke Toba belum sesuai yang diharapkan. Kunjungan tertinggi terjadi sebelum krisis moneter 1998 yakni lebih dari 312 ribu. Raihan tersebut belum pernah tertandingi sampai sekarang yang hanya sekitar 270 ribuan.

Sementara, General Manager Garuda Indonesia Branch Office Yogyakarta Jubi Prasetyo mengatakan, potensi untuk mendorong 10 destinasi wisata Bali baru saat ini terbuka luas. Pembenahan infrastruktur di dalam negeri bisa dioptimalkan dengan konektivitas penerbangan internasional. Termasuk diantaranya dengan Eropa yang sejauh ini menjadi pasar potensial.

“Kuncinya adalah kawan-kawan pelaku jasa wisata dan pemerintah harus terus meningkatkan sinergi termasuk dengan relasi di manca negara, termasuk Eropa. Wisawatan yang datang ke Indonesia, ke depan harus dapat ditangkap juga oleh daerah-daerah lain selain Bali dan Jogja serta destinasi yang selama ini sudah lebih dulu dikenal,” tandasnya. (SM)