Pengendalian Inflasi Perlu Dipelajari, Ini Alasannya

149
Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes menyerahkan cinderamata kepada Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Medan, Qamarul Fattah ketika berkunjung ke Pemkot Medan, Rabu (19/09/2018).(nila jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama sejumlah OPD dan awak media selama 3 hari tanggal 18 hingga 20 September 2018 mengadakan kunjungan kerja ke Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Provinsi Medan. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk bertukar pikiran dan menimba ilmu tentang pengendalian inflasi di Kota Medan termasuk pengembangan inovasi-inovasi yang masing-masing dilakukan dalam pengendalian inflasi.

Rombongan Pemkab Sleman dipimpin Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun MKes yang membawa tidak kurang 14 OPD di Slemsm. Mulai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Sekretaris Bappeda, Kepala Perekonomian, Kabag Umum, dan kadinas Pertanian dan Perikanan. Ada juga Kabag Humas, Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Hukum, Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian dan sejumlah awak media yang bertugas di lingkungan Pemkab Sleman.

Rombongan diterima Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Medan, Qomarul Fatah.
Dalam paparannya, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menuturkan, Pemkab Sleman memang bertekad mewujudkan daerah yang lebih sejahtera, mandiri, dan berbudaya. Termasuk, agar e-goverment dapat terintegrasi pada 2021.

Inflasi, lanjut Sri Muslimatun menjadi salah satu masalah yang memiliki kepentingan tinggi untuk diselesaikan. Dari sana, roda perekonomian dan aktivitas-aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Sleman mampu mendapatkan kepastian.

Sebab inflasi yang tinggi bisa menyebabkan pendapatan masyarakat terus menurun. Inflasi yang tidak stabil, dapat pula menciptakan ketidakstabilan pelaku ekonomi dan menyulitkan keputusan masyarakat dalam investasi dan produksi.

“Selain itu, inflasi domestik yang tinggi memberikan tekanan terhadap nilai rupiah. Karenanya, melalui kunjungan ini kami ingin menimba pengalaman Medan menghadapi inflasi,” kata Sri Muslimatun, di Kantor Wali Kota Medan, Rabu (19/09/2018).

Cabai, menjadi salah satu elemen penting bagi masyarakat semasa inflasi, dan Medan turut unggul mengendalikannya. Pada kesempatan itu, Sri Muslimatun membagikan satu inovasi Kabupaten Sleman menghadapi kondisi itu.

Sri Muslimatun menjelaskan Kabupaten Sleman telah memiliki rumah pasca panen cabai yang menerapkan sistem lelang atau pasar lelang. Dia berharap, penerapan lelang itu mampu mengendalikan harga cabai.

Selain itu Sri Muslimatun juga mengungkapkan ingin belajar menambah pengetahuan dalam mengelola Pemerintahan daerah khususnya dalam bidang perekonomian, sosial dan kebudayaan.

“Kami menilai Kota Medan memiliki perekonomian yang baik dan berkembang pesat. Selain itu kebudayaan juga tetap terjaga ditengah perubahan dan perkembangan dunia. Artinya Kabupaten Sleman berkeinginan untuk menjadi daerah yang perekonomian dan masyarakatnya lebih maju dan berkembang,” tutur Sri Muslimatun.

Kepada rombongan dari Sleman Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Medan, Qamarul Fattah menuturkan, Kota Medan yang memiliki APBD Rp 5,4 triliun menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 1,4 triliun.

“Medan miniatur Indonesia dan pusat pertumbuhan Indonesia belahan barat, jadi pengendalian inflasi sangat penting dilakukan,” kata Qamarul.

Qamarul menjelaskan, untuk mengendalikan harga pasar misalnya, sejak 2012 Kota Medan membangun pusat informasi lewat videotron-videotron di enam pasar. Hal itu bertujuan memberi informasi pasti tentang harga komoditi pasar.

Kota Medan turut menghimbau masyarakat untuk melakukan penanaman cabai di pekarangan-pekarangan rumah. Hal itu ternyata berhasil karena harga cabai merah yang ada tidak mempengaruhi inflasi.

Hal itu dikarenakan perubahan-perubahan harga yang tercatat BPS hanya yang terjadi di pasar-pasar. Artinya, saat harga di pedagang bisa Rp 100 ribu per kilogram, harga cabai rumahan yang bisa setengahnya tidak mengakibatkan masalah.

Selanjutnya, Kota Medan melakukan pula penanaman bawang yang mengantarkan penghargaan sebagai TPID inovatif. Tapi, bawang sendiri kerap mengakibatkan inflasi yang terbilang sering selama satu tahun.

“Itu kita antisipasi dengan membuat pasar murah di 150 titik jelang bulan Ramadhan, sebulan penuh, dan jelang Idul Fitri kita buat operasi pasar di 53 titik,” kata Qamarul.

Hasilnya, Kota Medan empat kali meraih penghargaan untuk TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) mulai 2012, 2014, 2015 dan 2016. Karenanya, tidak salah jika ide-ide yang diterapkan Kota Medan menghadapi inflasi dapat dijadikan pelajaran kota-kota lain di Indonesia.
Menanggapi hasil kunjungan ke Medan Sri Muslimatun akan segera menindaklanjuti dengan memantapkan koordinasi dan komitmen dengan OPD di Sleman.

“Tugasnya apa, misalnya rapat harus datang dan juga bisa melibatankan polisi maupun ulama. Sehingga ke depan Sleman bisa memperoleh penghargaan TPID,” ujarnya. (yve)