Pengunjung Mbludak, Kuliner Habis Sebelum Waktunya

252
Suasana sebuah sudut Nikmatnya Kuliner Nusantara, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri Rabu (04/10/2017).(arie giyarto/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID–Gedung Purna Budaya yang sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri di Bulaksumur Yogyakarta, Rabu (04/10/2017) bertabur aneka kuliner dari seluruh Nusantara. Acara Nikmat Kuliner Nusantara untuk Kesejahteraan Indonesia tersebut mendapat respon positif baik dari sisi peserta maupun pengunjung.

“Kami datang jam 08.00, jam 11.00 semua makanan khas daerah kami sudah habis. Jadi banyak yang kecewa tidak bisa menikmati makanan zaman dulu (jadul) khas Wonogiri,” kata St Pranowo dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri menjawab pertanyaan koranbernas.id di sela-sela menemani ibu-ibu penjaga stand.

Di out door, pembeli berjubel, antre di depan stand aneka makanan. Bahkan di stand Bu Bagyo yang terkenal dengan makanan tiwul, lopis, gatot, dan aneka makanan tradisional sejenis  itu tak hanya antre, tapi berebut. Sembari mengambil sendiri makanan yang dikehendaki, beramai-ramai menyodorkan pada Bu Bagyo untuk diberi kelapa parut maupun juruh atau air gula jawa kental sekaligus membayarnya.

Penjual mencoba memberi nama unik stand atau makanannya untuk menarik minat pengunjung. Ada Dawet Kemayu, ada Templette yang menghidangkan olahan dari kedele. Omah Pari menghidangkan tumpeng mini dengan lauk di sekelilingnya.

Sementara di dalam gedung, berlangsung festival kuliner Indonesia yang diikuti lebih dari 20 jenis makanan khas  provinsi masing-masing. Dari wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, NTB, NTT dan Papua, sebagian olahan makanan khasnya dari ikan.

“Ini bahan-bahannya kami datangkan khusus dari Wakatobi,” kata penjaga stand Provinsi Sulawesi Tenggara yang menggelar banyak jenis makanan. Termasuk camilan terbuat dari ubi jalar, mirip di Jogja dikenal dengan grubi.

Seperti diketahui, Wakatobi merupakan daerah sangat terkenal dengan taman lautnya yang sangat indah.

Begitu membludaknya pengunjung, selesai penilaian dan diizinkan untuk melihat sambil mencicipi, dalam waktu singkat seluruh sajian makanan khas daerah habis.  Ada yang pukul 11.30 WIB peralatannya sudah dikemasi, sementara pengunjung masih berdatangan. Sementara dijadwalkan, acara itu baru berakhir pukul 16.00 WIB.

“Sebenarnya ada sajian soto untuk panitia, juga terpaksa dijual karena pembeli memang meluber,” kata Ratna salah seorang panitia bagian konsumsi.

“Dari pameran ini, kita menjadi tahu betapa beragamnya kuliner Nusantara yang kaya warna dan citarasa. Ada yang sangat pedas, ada yang sangat asin, ada yang campuran. Indonesia memang kaya,”kata Ny Nani, salah seorang pecinta kuliner yang hadir bersama temannya. Apalagi para penunggu stand provinsi mengenakan busana khas daerah masing-masing.

Ada hiasannya dari bulu-bulu, songkok tinggi, aneka tenunan khas daerah, kain songket dan sebagainya. Termasuk aneka batik. Sehingga membuat suasana jadi lebih meriah. (SM)