Penjual Air Berburu Sampai Provinsi Tetangga

264
Pengambilan air bersih di Wonogiri Jawa Tengah. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Minimnya sumber mata air di wilayah Gunungkidul, utamanya sekitar Kecamatan Rongkop dan Girisubo, menyebabkan para penjual air yang menggunakan tangki swasta harus berburu air sampai di provinsi tetangga, tepatnya di wilayah Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.

Salah seorang pedagang air swasta, Margoto (51) mengaku setiap hari dirinya berangkat dari rumah sekitar pukul 04:30 dan pulang hingga pukul 21:00. Dia berkeliling menjajakan air bersih di sekitar kecamatan Rongkop dan Girisubo. Jika ada warga yang membutuhkan akan menghubungi dirinya melalui ponsel ataupun mencegat dirinya saat berkeliling.

Nama dan alamat akan ditulis dalam buku catatannya untuk memudahkan dia saat menyalurkan air bersih. “Setiap hari bisa sampai 10 rit, harus pulang malam,” katanya saat ditemui di sela-sela menjajakan air bersih dengan mobil tangki di wilayah Desa Melikan Kecamatan Rongkop, beberapa hari lalu.

Air yang dijajakan harganya juga bervariasi mulai Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per tangki yang berisi 5.000 liter air bersih, tergantung jauh dekatnya rumah dan sumber air. Ada dua sumber yang diambilnya, di sekitar pelabuhan Sadeng Desa Pucung Kecamatan Girisubo dan ke wilayah Pracimantoro Jawa Tengah. “Untuk sumber di Sadeng terpengaruh air laut, jika pasang airnya ikut naik, jika surut juga surut, sehingga kami banyak mengambil dari Pracimantoro,” tuturnya.

Sopir lainnya, Sakiran, mengaku sengaja mengambil air dari wilayah Pracimantoro untuk droping wilayah Kecamatan Rongkop, sementara untuk Girisubo menggunakan air dari sekitar pelabuhan Sadeng. “Kita ambil dari Pracimantoro relatif lebih mudah dan dekat, kalau dari Rongkop sekitar 10 kilometer,” ucapnya.

Dia mengakui, sumber air di wilayah Rongkop memang tidak banyak sehingga memilih mencari ke luar provinsi. “Di sana ada sumur bor, dan airnya cukup banyak,” kata dia.  Tidak adanya akses air PDAM, membuat warga Desa Melikan Kecamatan Rongkop bertahun-tahun hanya bergantung dengan air hujan yang ditampung di telaga dan bak Penampungan Air Hujan (PAH) milik warga.

Namun kini memasuki musim kemarau yang melanda, cadangan air hujan tersebut sudah mulai habis. Tak ada pilihan lain, warga terpaksa membeli air dari tangki swasta untuk tetap memenuhi kebutuhan air, karena bantuan droping air dari pemerintah daerah setempat dirasa masih kurang, dan tidak mencukupi kebutuhan warga.

Jual ternak

Untuk tetap mendapat pasokan air, tidak jarang warga terpaksa menjual berbagai hewan ternak hingga kayu untuk sekadar membeli air. Salah satunya dialami Mujiono warta RT 01 RW 6 Dusun Ngricik Desa Melikan Kecamatan Rongkop. Sejak musim kemarau tiba, dirinya dan keluarga sudah tiga kali membeli air dari tangki swasta dengan harga mencapai Rp 120.000  per tanki 5.000 liter yang hanya bisa digunakan 3 minggu hingga 1 bulan saja. “Membeli air untuk berbagai keperluan seperti konsumsi, mandi, mencuci hingga minum ternak,” katanya.

Layaknya warga lain di dusunnya, ayah 2 anak ini mengaku terpaksa menjual berbagai barang yang menjadi tabungan saat musim kemarau tiba. Di antaranya kayu dan hewan ternak kambing dan ayam untuk sekadar membeli air.

Menjual hewan ternak dan hasil panen untuk membeli air sudah menjadi kebiasaan warga setempat, karena memang tidak ada pilihan lain untuk mendapat pasokan air bersih yang layak dan hewan ternak merupakan satu-satunya pilihan karena mudah diuangkan. (ryo)