Penjual Bunga Tabur Berburu Rezeki

454
Penjual bunga tabur di Pasar Beringharjo Yogyakarta menunggu pembeli, Minggu (13/05/2018). (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS-ID — Harapan para penjual bunga tabur, termasuk pedagang bunga tabur musiman, untuk memperoleh keuntungan besar tinggal menghitung hari.

Ini karena bulan Sya’ban segera berakhir dan datang berganti bulan Ramadan. Itu berarti tradisi nyadran atau ziarah kubur dengan membawa bunga tabur segera berakhir. Biasanya saat Ramadan sangat sepi pembeli bunga, kecuali untuk sripah atau kematian.

“Paling hari Selasa tanggal 15 Mei sudah terakhir. Kalau 1 Ramadan jadi jatuh tanggal 17 Mei, hari Rabu sudah padusan,” kata Tujiyem, pedagang bunga tabur asal Pakis Magelang menjawab pertanyaan koranbernas.id, Minggu (13/05/2018),  di bursa bunga tabur lantai 3 Pasar Beringharjo Yogyakarta.

Pagi itu dengan gagah dia turun dari mobil angkot asal Magelang. Di belakangnya Jumirah membawa dua poncot bunga mawar merah putih segar dan masih utuh-utuh.

Dia kemudian mengambil tempat di sisi selatan jalan masuk lantai tiga pasar tersebut, di belakang penjual bunga lainnya.

Baca Juga :  Tim Opsnal Tangkap Perempuan Pencuri Motor

Madhep ngulon wae (menghadap ke barat saja),” katanya renyah. Dia berharap posisi ini bisa langsung tertangkap mata calon pembeli.

Menurut dia, bunga tabur asal Boyolali dan Pakis Magelang yang dijual para pedagang di Beringharjo sebenarnya sama. “Tinggal di mana jatuh pilihan pembeli, berarti itu rezekinya,” kata wanita berkerudung hijau itu.

Selain dari Boyolali dan Magelang, Minggu pagi itu juga ada penjual bunga asal Tawangmangu. Tetapi karena harga di Yogyakarta tidak seperti diharapkan, rencananya sebagian akan dibawa balik ke Solo.

Tak terlalu mahal

Musim nyadran tahun ini menurut beberapa pedagang tidak seramai tahun lalu. Itu berarti harga bunga tabur pun tidak terlalu mahal.

Bunga melati asal Pekalongan yang masih gondok (belum mekar) menebarkan bau harum banyak ditawarkan. Sedang kenanga yang masih sangat segar ditawarkan Rp 100.000 per kilogramnya.

Tapi ketika seorang pembeli memberikan uang Rp 5.000 ternyata kira-kira bisa dapat lebih dari 1 ons. Hanya bunga kanthil yang tidak banyak ditawarkan, harganya lebih mahal dibanding tahun lalu. Itu pun bunganya masih kuncup berwarna kehijauan. Bukan putih menarik.

Baca Juga :  Bupati:Tantangan MUI Tidak Ringan

Satu-satunya bunga tabur yang termasuk mahal adalah telasih. Padahal bunga berwarna ungu dengan bau yang khas ini biasanya harganya sangat murah.

Sedasa ewu tiga mawon (sepuluh ribu tiga saja),” kata penjual. Sementara seorang pembeli yang menawar Rp 2.500 per ikat relatif kecil, dibiarkan berlalu.

Risiko

Para pedagang berharap banyak pembeli, terdiri dari perantau-perantau yang kembali ke Yogya untuk melaksanakan tradisi nyadran.

Padahal kalau perhitungannya meleset, risikonya tinggi. Terutama bunga mawar yang esok paginya akan ambrol dan banyak turun harga.

Seorang pembeli bunga mawar merasa lega bisa mendapatkan satu poncot bunga mawar merah putih  yang utuh-utuh dengan harga Rp 50.000. “Padahal tahun lalu paling tidak harganya Rp 75.000 sampai 100.000,” katanya sambil tersenyum. (sol)