Penjualan Satwa Dilindungi Kembali Dibongkar

129
Ditreskrimsus Polda DIY berhasil membongkar penjualan satwa yang dilindungi UU. Kasus tersebut dipublikasikan ke media, Kamis (12/04/2018) siang, di Mapolda DIY. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Hingga bulan April 2018 sudah tiga kasus penjualan satwa dilindungi berhasil dibongkar aparat. Termasuk kasus yang diungkap jajaran Ditreskrimsus Polda DIY, Kamis (12/04/2018).

Dalam konferensi pers di Polda DIY, Direktur Ditreskrimsus Polda DIY Kombes Polisi Gatot Agus Budi Utomo menyampaikan pihaknya kali ini mengungkap kasus penjualan satwa spesies burung kakak tua dan elang, total bernilai puluhan juta rupiah.

Pihaknya menangkap tersangka berinisial SR, warga Desa Trimurti Kecamatan Srandakan Bantul yang menjual sejumlah satwa dilindungi.

“Berdasarkan informasi yang kami terima dari masyarakat, di daerah Bantul ada seorang warga akan melakukan penjualan satwa dilindungi. Salah satu satwa ini burung kakak tua Seram atau jambul oranye,” ujar dia.

Setiap burung dijual di antara kisaran harga Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta. Tersangka yang tinggal di Dusun Gunungsaren itu dibekuk petugas Rabu (11/04/2018), di kediamannya.

“Saat kita lakukan penangkapan, ternyata tidak hanya ada kakak tua Seram, tetapi juga satwa lainnya. Total ada tujuh ekor burung atau satwa yang kita amankan,” sebutnya.

Baca Juga :  Taksi dan Becak Tak Ingin Berebut Penumpang

Dari pengakuan tersangka berusia 21 tahun itu, aktivitas jual beli satwa telah dilakukan kurun waktu tiga tahun terakhir dengan omzet puluhan juta rupiah per bulannya.

“Misalnya untuk kakak tua jambul oranye ini (asal Pulau Seram Maluku), dijual seharga Rp 3,5 juta. Biasanya tersangka SR menjual secara konvensional ke Pasar Burung Pasty atau berdasar pesanan orang,” tuturnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Junita Parjanti, menyebutkan satwa-satwa yang berhasil diselamatkan dari perdagangan illegal akan dikonservasi dengan cara dirawat terlebih dahulu di Taman Hutan Raya atau Tahura Bunder Gunungkidul.

“Untuk sementara, satwa ini akan kami bawa ke Stasiun Flora-Fauna di Tahura Bunder. Saat ini kami memiliki kandang penyelamatan satwa, dan yang terdapat di sana adalah (kandang) elang dan kakak tua,” kata Junita.

Baca Juga :  Pemerintah DIY Siapkan Acara Syukuran Pelantikan Gubernur

BKSDA DIY mengklaim telah banyak melakukan sosialisasi terkait satwa-satwa yang dilindungi UU dan tidak boleh diperjualbelikan, BKSDA bahkan membuat quick response dan call center agar masyarakat bisa melapor jika ada temuan satwa dilindungi yang diperjualbelikan.

“Sebenarnya kita sudah banyak melakukan sosialisasi dan selain itu kita juga membuat program quick response dengan nomor call center 0821 4444 9449,” tambahnya.

Sedangkan, barang bukti satwa yang berhasil disita dari kediaman tersangka di antaranya dua ekor kakak tua Seram dengan jambul berwarna oranye, dua ekor kakak tua jambul kuning dan dua ekor elang Bondol serta satu ekor elang Bido.

Tersangka SR dijerat pasal 40 ayat 2 juncto pasal 21 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, serta diancam hukuman maksimal lima tahun penjara dengan denda maksimal Rp 100 juta. (sol)