Pemain Kalanari Theatre Movement berlatih di PKKH UGM, Minggu (20/08/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kalanari Theatre Movement akan menyelenggarakan pentas teater berjudul ‘Pooh Pooh Somatic:On Crowd of Biographies” di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Senin-Selasa, 21-22 Agustus 2017. Pentas yang dimulai pukul 20.00 WIB ini akan dihelat dengan konsep outdoor dan lesehan.

Panitia acara, M Dinu Imansyah kepada koranbernas.id, Minggu (20/8/2017) mengungkapkan Kalanari yang mendapatkan hibah seni kelola mencoba bereksperimen tentang pertanyaan bagaimana bahasa sebelum kata sebagai ide dasar pentas teater yang didukung koranbernas.id tersebut.

“Diantara berbagai spekulasi dan pengandaian, kami bertemu dengan teori bahasa dari Max Müller, seorang filolog dan Orientalis akhir abad XIX, kelahiran Jerman. Pooh-pooh adalah salah satu teorinya tentang asal mula bahasa yang mengungkapkan bahwa kata-kata awal bahasa manusia muncul dari bunyi-bunyi ekspresi emosional yang dipicu oleh rasa sakit, senang, terkejut dan lainnya,” jelasnya.

Teori itu kemudian mereka sandingkan dengan “somatic”, term yang muncul dari ranah biologi sebagai suatu sistem saraf sadar yang merangsang kontraksi otot. Kini metode somatik juga muncul dalam dunia seni dan studi gerak serta terapi.

Kedua term dasar tersebut diturunkan menjadi metode penciptaan laku tubuh dalam pertunjukan ‘Pooh-pooh Somatic: On Crowd of Biographies’.Teks pertunjukan yang disutradarai Ibed Surgana Yuga itu diambil dari pecahan-pecahan biografi para pelakon yang kemudian direkayasa oleh teks-teks yang muncul dari tanggapan terhadap ruang pertunjukan, waktu dan kondisi emosi kekinian dari pelakon serta manipulasi oleh biografi sutradara.

“Semuanya berkelindan dalam kerumunan, menciptakan peristiwa pertunjukan. Pooh-pooh Somatic ini merupakan pertunjukan kedua yang menjadi ruang singgah bagi program tubuh lamis, sebuah studi dan eksplorasi kalanari theatre Movement terhadap bahasa paling primitif dari teater, yakni gerak dan suara” ungkapnya.

Program yang telah dimulai sejak 2014 tersebut, lanjut Dinu mencoba meminimalisasi ke-lamis-an tubuh manusia dalam berbahasa dan berlaku. Pertunjukan sebelumnya adalah Yo-he-ho’s Sites yang dipentasperdanakan pada Salihara International Performing-Arts Festival, November 2016 lalu.

Pemain dalam pentas tersebut terdiri dari Assabti Nur Hudan, Dayu Prismawati, M. Dinu Imansyah, Mathori Brilyan dan Rosalia Novia Ariswari. Penata panggung Mochalmad Jibna, penata cahaya Okta Firmansyah, penata bunyi Jenar Kidjing, Muqolis Genjik dan Desvandi.

Sebagai manajer panggung Miftakul Efendi, manajer produksi Gandez Sholeehah dan asisten keproduksian Leonie Anggrasari dan Sarinah.

Sementara Ibed mengungkapkan, mereka mencoba pola dramatika yang berbeda dengan yang pernah dilakukan dalam pertunjukan-pertunjukan Kalanari sebelumnya. Hal itu bahkan merupakan pola yang hampir tak memiliki rasa dan nilai dramatika jika ditilik dari pola yangkami lakukan sebelumnya seperti datar, kasar, monoponik, rada menjijikkan dan tidak menghibur.

“Namun kami mencoba untuk meyakininya sebagai suatupola berbeda yang akan menemukan dramatikanya tersendiri, entah untuk tujuan menemukan pola baru atau sekadar memperluas jelajah estetika. Tentu saja ini sebuah pilihan berisiko karena meruntuhkan bangunan estetika yang belum sepenuhnya kokoh yang telah susah payah kami bangun sebelumnya,” tandasnya.

Selain itu kekhawatiran pada kekecewaan publik yang menilai ciri khas Kalanari dari pertunjukan-pertunjukan sebelumnya. Pada tataran yang lebih remeh, bagi diri mereka, berlatih mengalihkan pandangan pada pola baru, yang belum sepenuhnya memberi rasa pada selera estetika diri, mirip dengan “perut-nasi” yang dipaksa memamah roti di setiap jam makan.

“Dan di tengah usaha melakoni pola baru ini, pola lama selalu membayang, jadi godaan besar. Tapi kami mencoba mengunyahnya sebagaisebuah terapi,” imbuhnya.(Tugeg Sundjojo/yve)