Penyakit Langka Ini Tiba-tiba Hilangkan Keceriaan Tsania

1246
Penyakit langka mendera Tsania Azzahra (12 tahun) siswa SMPN 2 Piyungan sehingga badanya menjadi sangat lemah seperti saat mengikuti pemeriksaan kesehatan dalam program Jamkesus di Dinas Sosial Bantul, Kompleks perkantoran Manding,Selasa (18/09/2018). (Sari Wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Sebuah penyakit langka bernama Guillaian Barre Syndrome (GBS) telah mendera gadis cantik Tsania Azzahra (12 tahun) sejak dua tahun silam. Penyakit ini adalah gangguan autoimun dalam tubuh yakni kekebalan imun menyerang tubuh itu sendiri,  dalam hal ini menyerang sistem syaraf tepi sehingga penderita mengalami gangguan pernafasan dan kelumpuhan.

Putri kedua pasangan Hindarti (47 tahun) dan Suryanto (46 tahun) warga  Dusun Wanujoyo Lor, Desa Srimartani,Kec Piyungan  itu memang melemah akibat serangan virus GBS.

Tsania yang awalnya ceria mendadak untuk bernafas  saja  sulit. Anggota badan  sebelah kanan juga nyaris tidak berfungsi. Kendati dengan segala keterbatasan yang ada, namun Tsania dengan semangat tinggi berhasil menyelesaikan sekolahnya di SD Kembangsari  dan  melanjutkan  pendidikan di SMPN 2 Piyungan.

“Kendati sejak diterima di sekolah itu Tsania belum pernah berangkat sekolah.  Saya sendiri sudah bertemu pihak sekolah dan menceritakan kondisi yang ada. Kami didukung dengan pemberian buku-buku pelajaran, untuk dibaca dan saya ajarkan semampu saya ke Tsania. Kadang guru juga melakukan kunjungan ke rumah,” kata Hindarti kepada koranbernas.id saat pemeriksaan kesehatan dan juga pemberian alat bantu jalan untuk putrinya di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Bantul Kompleks Parkantoran Manding,  Selasa (18/09/2018).

Dituturkan Hindarti , kalau penyakit yang diderita putrinya itu tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Dirinya ingat, saat mau sahur puasa di tahun 2016, Tsania yang biasanya digendong ayahnya ke meja makan karena ngantuk tiba-tiba saja terlihat lunglai ketika diangkat.

Baca Juga :  Masalah Emansipasi Sudah Selesai

“Akhirnya  saat itu Tsania tidak sahur dan  puasa. Sekitar jam 06.00 WIB badanya terlihat semakin lemah, bahkan untuk miring saja tidak bisa. Nafas juga terlihat sesak,suaranya lirih sekali”kenang Hindarti berkaca-kaca.

Segera dia bersama suaminya membawa Tsania ke RS di daerah Prambanan yang dekat dengan rumah mereka. Namun melihat kondisinya yang kian melemah,  akhirnya Tsania dirujuk di RS Sardjito. Disana gadis  berkulit putih ini dirawat di ruang PICU 8 hari sebelum akhirnya dipindah ke  ruang perawatan selama  dua minggu.

“Nafas Tsania itu sesak berdasarkan pemeriksaan medis karena serangan virus menyebabkan paru-paru dia tidak bisa bekerja maksimal. Sehingga sirkulasi pernafasan juga tidak lancar dan sesak. Untuk itu dibuatkan lobang pernafasan di tenggorokan,”kata Hindarti. Lobang ini fungsinya membantu pernafasan. Karena jika lobang tersebut ditutup nafas Tsania sesak kembali.

Saat itu biaya untuk pengobatan Tsania menghabiskan Rp 180 juta. Dirinya bersyukur pengobatan tersebut dicover BPJS Kesehatan.

“Yang tidak dicover adalah perawatan setelahnya. Termasuk kami harus membeli salep , kasa dan selang yang setiap hari harus diganti, jika tidak maka saluran  di tenggorokan tersebut tidak steril,” kata ibu rumah tangga tersebut.

Baca Juga :  Permainan Tradisional Meriahkan Open House SMP PL 1 Yogyakarta  

Kendati dirinya bukan seorang tenaga medis, namun pihak RS dan dokter telah mengajarkan kepada dirinya cara memberikan salep, pemasangan kain kasa dan juga selang  suction setiap harinya.

“Selain itu saya harus mengantar terapi di RS agar syaraf-syaraf Tsania bisa terlatih dan tidak ada pengecilan anggota badan maupun kelumpuhan syaraf baik tangan ataupun kaki. Dalam seminggu terapi dilakukan dua kali,”katanya. Ketelatenan itu berbuah positif.

Setahun setelah diterapi Tsania sudah mampu berdiri, 4 bulan kemudian mampu duduk  dan enam bulan kemudian bisa berjalan pelan dengan dituntun.

“Saya selalu berdoa dan berkeyakinan anak saya bisa sembuh seperti semua,” ujarnya.

Untuk itulah dengan dibantu suaminya, segala macam pengobatan dan terapi dilakukan keduanya guna kesembuhan putri tercinta.

Sementara anggota DPRD Bantul asal Piyungan, Nur Laili Maharani  berharap perhatian bagi para penyandang disabilitas agar terus dilakukan secara berkesinambungan.

”Saya tentu sangat berharap perhatian seperti ini dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat guna membantu mereka yang menderita penyakit dan membutuhkan pengobatan. Termasuk mereka yang menyandang disabilitas,” katanya (yve)